JOGJA - Situasi panas sempat terjadi di area Polda DIY, pada Jumat (29/8).
Ribuan massa aksi memadati kawasan tersebut sejak sore hari sekitar pukul 17.00 hingga menjelang subuh pada hari Sabtu (30/8/2025).
Di balik situasi mencekam tersebut, tim medis dan relawan kesehatan jadi salah satu pihak yang punya dampak paling signifikan.
Koordinator posko kesehatan lapangan Public Safety Center (PSC) 119 DIY Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY Krisma Triantoko mengungkapkan, ia bersama para relawan sudah berjaga di sekitar lokasi aksi sejak pukul 18.00 di hari Jumat.
"Terbentuknya pukul 00.00 dinihari tadi, tapi layanan kami dimulai sejak sore, informasi awal kejadian itu sejak Jumat sore. Jadi melayani dulu baru dibentuk posko," katanya saat ditemui Radar Jogja.
Krisma menyampaikan, posko kesehatan dan medis sendiri saat ini dibagi menjadi tiga titik.
Pertama berada di Kantor Kalurahan Condongcatur sebagai posko induk, kedua di UPN, dan yang ketiga di gedung serbaguna Kaliwaru.
"Secara akumulatif ada 29 ambulance yang berjaga, dibagi ke tiga posko kesehatan itu," ungkapnya.
Untuk kegiatan yang dilakukan, tentu koordinasi dengan relawan dan ambulance, lalu melakukan evakuasi pada korban massa aksi, dan memberi dukungan kesehatan awal.
"Dari evakuasi kita bawa ke posko, kita beri tindakan. Jika perlu tindakan lanjut, kami rujuk ke rumah sakit," bebernya.
Ia berujar bahwa secara resmi ada dua rumah sakit (RS) rujukan yang sudah dikoordinasikan, yakni RS Sardjito dan RS Hermina.
Selanjutnya, ia merinci bahwa total pasien yang ditangani sudah mencapai 96 orang di tiga posko.
"Itu yang tercatat, ada yang tidak tercatat, ada juga yang langsung ke rumah sakit secara mandiri. Seperti kami dapat info ke RS JIH ada 18 orang yang masuk sendiri," ulasnya.
Sementara, terkait kondisi para pasien atau korban sendiri, rata-rata didominasi sesak nafas, lemas, dan pusing karena efek gas air mata. Di samping itu, juga ada beberapa luka fisik, robek, kena ledakan petasan, hingga ada yang disinyalir tertembak peluru karet.
"Dugaan kami ada yang tertembak peluru karet, di bagian kaki. Tapi ini baru dugaan, karena ada bekas lubang seperti peluru, dan bercucuran darah cukup banyak," terangnya.
Diakuinya, dari 96 orang yang sudah ditangani tim medis. Sebagian besar memang dari masyarakat, namun Krisma menyebut ada juga beberapa dari pihak aparat.
"96 itu campur, ada juga beberapa dari aparat. Pada prinsipnya kami menjunjung tinggi netralitas, tidak pandang bulu memberi bantuan kesehatan," paparnya.
Lebih lanjut, soal keberlanjutan posko sendiri, ia belum bisa memastikan, dan masih akan melakukan koordinasi lanjutan dengan Polda DIY, dan beberapa stakeholder lain.
"Sementara kami menunggu instruksi, kalau sekarang kan sudah cukup kondusif. Tapi kami tidak tahu apa ada gejolak lagi, atau kalau kondusif mungkin dibubarkan," terangnya.
Selain itu, ia juga mempersiapkan diri dengan kemungkinan lainnya, yakni adanya potensi gejolak di titik atau tempat lain.
"Kalau gejolaknya pindah, maka posko kami juga menyesuaikan dan pindah tempat," tandasnya.
Soal SDM yang berjaga sendiri, Krisma belum memiliki angka pasti, sebab cukup banyak relawan yang memang secara sukarela langsung datang dan membantu, namun diperkirakan secara akumulatif jumlah tim medis dan relawan lebih dari 100 orang. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva