SLEMAN - Aksi demonstrasi yang berlangsung di Markas Polda (Mapolda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akhirnya berakhir Sabtu pagi (30/8/2025) pukul 08.00 WIB.
Demo yang dimulai sejak Jumat (29/8/2025) pukul 18.00 ini berlangsung selama 14 jam dan memakan puluhan korban luka-luka.
Sebagian besar akibat gas air mata dan ledakan petasan.
Menurut laporan di lapangan, banyak demonstran mengalami sesak napas dan berbagai cedera lain yang memerlukan pertolongan medis segera.
Menanggapi situasi darurat ini, pihak Kalurahan Condongcatur berinisiatif mendirikan posko-posko pertolongan medis darurat.
"Kami jadikan halaman Kalurahan sebagai pos pertolongan medis pertama," ujar Lurah Condongcatur Reno Candra Sangaji.
Reno yang saat itu mendampingi, memastikan warganya aman menjelaskan, terdapat dua posko medis yang didirikan di wilayahnya.
Pertama di halaman Kalurahan Condongcatur dan Balai Padukuhan Kaliwaru.
Posko-posko ini siaga dengan berbagai relawan yang siap membantu para demonstran.
Relawan yang terlibat pun berasal dari berbagai organisasi, termasuk PMI Depok, Puskesmas Depok, Public Safety Center (PSC) Dinkes DIY, Linmas, Jaga Warga, dan Anggota Destana Condongcatur.
Puluhan mobil ambulans juga terlihat siaga di Pendopo Kalurahan Condongcatur, sigap menjemput dan mengantar demonstran yang membutuhkan penanganan medis lanjutan ke rumah sakit.
Ketua PMI Depok Sussi Listyaningsih mencatat, posko induk di Kalurahan Condongcatur telah menerima 30 korban hingga pukul 05.30 WIB, di mana tiga di antaranya harus dirujuk ke RS Sardjito.
Sementara itu, posko medis kedua di Balai Padukuhan Kaliwaru menerima 54 korban, dengan lima orang di antaranya juga dirujuk ke rumah sakit. (naf)
Editor : Iwa Ikhwanudin