SLEMAN - Keracunan makan bergizi gratis (MBG) telah terjadi dua kali dalam sebulan di Kabupaten Sleman.
Untuk itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyebut tengah mengambil beberapa tindak lanjut. Termasuk pada Badan Gizi Nasional (BGN).
"Saya ingin kolaborasi BGN dan pemkab dievaluasi. Tiba-tiba keracunan tapi kami yang kena. Ini di Sleman terus," terangnya ditemui di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (28/8).
Harda menegaskan, harus ada keterbukaan terkait prosedur yang digunakan. Termasuk oleh pengendali mutu selaku penanggung jawab.
Semestinya sebelum dibagikan pada para siswa makanan dicek dan semuanya harus baik.
"Jadi tidak akan menimbulkan yang tidak baik. Murid dan guru yang menerima jauh dari tanggung jawab itu," katanya.
Mantan Sekda Sleman ini menyebut juga akan mengumpulkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku penyedia MBG.
Walau demikian, dia menegaskan tidak bisa menghentikan operasional. Hanya sebatas memberi rekomendasi pada BGN.
Dalam rekomendasi itu dia menyampaikan SPPG yang dinilai bermasalah. Namun, untuk keberlangsungannya tetap jadi kewenangan BGN.
"Dicabut izinnya kalau saya, jangan diberi kepercayaan. Berarti tidak bisa menjalankan tugas dengan baik," katanya.
Dia juga berencana untuk bisa bertemu langsung dengan perwakilan BGN. Untuk membuat komitmen bersama dalam program yang menghabiskan anggaran besar ini.
"Hilangkan ewuh pekewuh dan sungkan. Aku denger SPPG ini disubkan. Kalau itu terjadi enggak boleh," katanya.
Program ini menyasar anak-anak jadi mestinya harus dijalankan dengan hati-hati. Kontrol harus jelas. Termasuk dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan.
"Kalau orang tua mungkin masih kuat dinei mangan rodo basi. Kalau anak-anak, ususnya masih baru. Harus hati-hati betul," jelasnya.
Pada dasarnya, pria asal Kapanewon Godean ini menyebut pemerintah kabupaten sangat mendukung program ini. Hanya saja harus dilaksanakan sesuai rencana.
"Kejadian jadi pembelajaran semuanya, mudah-mudahan tidak terjadi lagi dan semakin baik," tambahnya. (del)
Editor : Bahana.