SLEMAN - Paguyuban Sopir Truk Jogja Express (Jogjess) bersama jajaran Polda DIY melakukan kegiatan bagi-bagi sembako dan bendera merah putih kepada para sopir truk di Lapangan Parkir Barat Monumen Jogja Kembali (Monjali) Selasa (12/8). Agenda tersebut sebagai bentuk perayaan menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia.
"Kami menanamkan nilai bahwa setiap perjalanan bukan hanya tentang ketepatan waktu, tetapi juga tentang keselamatan semua pihak," ujar Ketua Paguyuban Jogja Express Supriyanto saat dikonfirmasi, Selasa (12/8).
Baca Juga: Soal Ijazah yang Belum Diterima Alumni UNY, Rektor Sebut Disebabkan oleh Perubahan Kurikulum
Agenda tersebut juga merupakan salah satu cara menghormati jasa pahlawan melalui pengibaran bendera merah putih di masing-masing truk yang dikendarai. Semangat nasionalisme diharapkan mampu tumbuh di segala lini lapisan masyarakat.
Pemilihan lokasi penyelenggaran juga dilandasi dengan dasar yang kuat. Monjali dimaknai sebagai tempat khusus dan simbol perjuangan rakyat Jogjakarta dalam mempertahankan kemerdekaan pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.
Baca Juga: Minim Anggaran dari Pemkab, NPC Kulon Progo Tetap Targetkan 24 Emas Dalam Peparda
"Semabako ini nantinya akan didistribusikan ke wilayah Gunungkidul, Kulon Progo utara, Sleman, Bantul dan wilayah DIY lainnya yang terdata secara tepat oleh anggota Jogjess," tuturnya.
Agenda ini, lanjutnya, juga merupakan sosialisasi untuk mendukung situasi keamanan, ketertiban masyarakar. Semua anggota Jogjess yang ada di jalanan, diminta untuk menjadi contoh pengendara yang lain agar tertib di jalan.
"Sopir truk memiliki peran ganda sebagai pengemudi dan penjaga ketertiban," bebernya.
Total anggota Jogjess di Sleman ada sekitar 50 orang. Kemudian jumlah keseluruhan di DIY ada 400 orang. Mereka semua berkomitmen mendukung keberlangsungan kenyamanan lalu lintas.
Panit 3 Subdit 2 Ditintelkam Polda DIY Ipda Gunawan Sri Kuncoro menyampaikan sopir truk yang selalu bekerja di jalanan mempunyai peran dalam melaporkan potensi gangguan keamanan yang ditemui selama perjalanan. Contohnya seperti kemacetan akibat kecelakaan, kondisi jalan rusak, atau kejadian mencurigakan yang dapat mengganggu kelancaran distribusi.
"Kami sengaja mengajak Jogjess karena mereka memiliki jaringan yang kuat di wilayah Jogjakarta," ujarnya.
Oleh karena itu, Polda DIY berusaha memberikan edukasi dan pencerahan kepada sopir truk. Ttermasuk edukasi soal truk yang memiliki muatan berlebih. Pendekatan sosial dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya pelanggaran lalu lintas. (oso)
Editor : Sevtia Eka Novarita