SLEMAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melaksanakan agenda rapat koordinasi dan evaluasi Pertashop di Bumi Sembada. Dalam kesempatan tersebut pengusaha mengeluh akan minimnya pendapatan yang diperoleh.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Susmiarto menjelaskan, pihaknya menerima laporan dari paguyuban Pertashop. Persoalannya adalah adanya jarak harga antara BBM yang subsidi dan non-subsidi. Nilainya dinilai cukup besar.
Baca Juga: Lima Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkup Pemkab Bantul Dirotasi
"Jadi penjualannya enggak banyak. Sementara biaya operasional tinggi," ungkapnya.
Dia mencontohkan ketika Pertashop memiliki pegawai yang harus dibayar bulanan. Ketika pendapatan tidak bisa untuk operasional tentu menyulitkan pengusaha.
Di sisi lain, jumlah kompetitor juga banyak. Utamanya dari warung yang menyebut dirinya Pertamini maupun yang menjual BBM eceran.
Baca Juga: Overproduksi Nikel Picu Krisis: Indonesia Terjebak dalam Keunggulan Sendiri?
"Pengusahanya tidak hanya dari swasta tapi juga dari BUMKal," tambahnya.
Walau demikian, Susmiarto menyebut persoalan harga ini tetap merupakan kewenangan dari Pertamina. Pihaknya hanya bisa membantu memudahkan layanan perizinan. Misalnya, untuk sertifikat laik fungsi maupun persetujuan bangunan gedung.
"Harapan pengusaha margin untungnya bisa cukup. Apalagi karena membantu Pertamina untuk menjual. Ketika investasi pasti maunya untung," lontarnya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga Taufiq Kurniawan menyebut, masing-masing harus kreatif dengan bisnis yang dimiliki. Hal ini merupakan bagian dari persaingan bisnis yang sah.
Baca Juga: Jadi Cermin Kemiskinan, Pemkab Kulon Progo Berharap Penerima Bantuan Pangan Tak Bertambah
Dia mencontohkan dengan membuka ATM, pangkas rambut, hingga minimarket untuk mendatangkan pelanggan. Sehingga, pengusaha tidak terpaku pada bisnis utama.
"Pertashop itu skala paling kecil menjual BBM resmi. Yang dilawan itu bensin yang tidak resmi karena tidak tahu kualitasnya seperti apa," terangnya.
Dia menyebut, di DIY sendiri ada 146 Pertashop. Saat ditanya soal keuntungan rata-rata yang diperoleh oleh Pertashop, Taufiq menyebut hal tersebut tidak bisa diumumkan. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita