SLEMAN - Sebanyak 23 ekor kambing di Girikerto, Kapanewon Turi mati. Peristiwa ini terjadi lantaran mereka mengalami keracunan pakan.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suryawati Purwaningtyas menjelaskan, peristiwa terjadi pada Juni lalu. Kematian serentak ini yang pertama kali terjadi pada 2025.
"Awalnya dicek untuk antraks, tapi ternyata negatif," katanya saat ditemui di Kantor DP3 Sleman Jumat (11/7).
Baca Juga: Dinsos DIY Kerja Sama dengan PARI Cabang Bantul, Skrining Tuberkulosis pada 400 Pekerja Sosial
Sementara itu, Medik Veteriner Madya DP3 Sleman Felisitas Kristiyanti menjelaskan, ditemukan jamur yang meracuni pada pakan. Hal ini didasarkan pada hasil lab BBVET Wates pada 23 Juni lalu. Untuk penyakit, bakteri, dan virus semuanya negatif.
"Untuk pakannya biasa saja. Ada silase, konsentrat, dan kulit kedelai," katanya.
Dari kejadian tersebut pemilik masih memiliki delapan ekor kambing yang hidup. Kristiyanti menyebut hal ini bisa terjadi karena daya tahan tubuh masing-masing hewan berbeda.
"Waktu itu juga berbarengan dengan perubahan cuaca dari hujan ke panas. Hewan pasti dalam kondisi stres," tambahnya.
Atas peristiwa ini pemilik diminta untuk memberikan pakan seimbang. Selain itu, melakukan perubahan pola pakan, yakni dengan diberikan hijauan segar sesuai dengan habitatnya. Untuk bahan pakan juga mesti dikontrol kelembabannya sehingga jamur tidak cepat hidup.
"Kambing-kambing yang masih hidup telah disuntik vitamin. Kondisinya membaik. Hingga sekarang tidak ada yang mati," ucapnya.
Kristiyanti memastikan, kambing yang mati telah dikubur dan tidak dikonsumsi. Peristiwa juga ini tidak terjadi pada ternak sekitarnya karena bukan penyakit infeksius. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita