Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jumlah Sampah Organik Mendominasi di Sleman, DLH Berupaya Buat RDF Organik Meski Harganya Rendah

Delima Purnamasari • Senin, 30 Juni 2025 | 20:33 WIB

MANDIRI : Suasana pengolahan sampah di TPS Terintegrasi Sinduadi Gumregah Gayeng Regeng pada Jumat (6/10/2023). Tempat ini,  mampu mengolah sampah organik dan anorganik (Iwan Nurwanto)
MANDIRI : Suasana pengolahan sampah di TPS Terintegrasi Sinduadi Gumregah Gayeng Regeng pada Jumat (6/10/2023). Tempat ini, mampu mengolah sampah organik dan anorganik (Iwan Nurwanto)
SLEMAN - Produksi sampah di Kabupaten Sleman setiap harinya mencapai 602 ton.

Sebanyak 47 persen hingga 50 persennya merupakan sampah organik.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman Epiphana Kristiyani.

Dia menyebut pengelolaan sampah organik menjadi tantangan tersendiri.

"Sampah yang ada itu campur sehingga sulit untuk mengelola sampai akhir. Jadi kami mengimbau masyarakat untuk melakukan pemilahan," katanya saat ditemui di Gedung Serbaguna Kabupaten Sleman, Senin (30/6).

Dia menilai, semestinya sampah organik ini bisa diselesaikan oleh masing-masing individu.

Mulai dari dibuat kompos, ekoenzim, hingga pupuk cair. Teknik-teknik pembuatannya mudah dan telah banyak dikenal.

"Dua TPST yang sudah beroperasi itu didesain untuk mengolah residu anorganik. Tapi ternyata kami belum bisa benar-benar menutup penerimaan sampah organik," keluhnya.

Oleh sebab itu, untuk menyelesaikan persoalan ini TPST di Bumi Sembada berupaya membuat produk refuse derived fuel (RDF) organik.

Meskipun harganya jauh berbeda jika dibandingkan dengan RDF anorganik.

"Untuk anorganik itu Rp 425 ribu per ton, kalau organik Rp 250 ribu per ton," katanya.

Epiphana turut berpendapat apabila sampah organik ini belum bisa diselesaikan oleh setiap individu maka berpotensi menjadi hambatan dalam pengoperasian insinerator.

Dia menyebut semestinya insinerator digunakan untuk sampah residu sehingga pembakarannya bisa optimal.

"Bayangkan membakar sampah organik yang basah. Ini akan jadi pembakaran yang tidak sempurna," katanya.

Kondisi tersebut akan menimbulkan gas rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim.

Sehingga, solusi yang semestinya dilakukan adalah mengeringkan sampah organik basah tersebut. Namun, hal ini bukan proses yang mudah.

"Jadi harus bersama-sama untuk mewujudkan Sleman bersih. Saat ini sampah yang bisa terolah baru mencapai 22 persen," katanya.

Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyebut strategi utamanya dalam menyelesaikan masalah sampah adalah membangun insinerator.

Nantinya mesin pembakaran ini memiliki kapasitas 50 ton per jam dan bisa bekerja 24 jam tanpa henti.

"Jadi tidak hanya untuk sampah dari Sleman, tapi DIY," katanya. (del)

Editor : Bahana.
#Sleman #sampah organik #DLH Sleman #RDF #Harda Kiswaya