SLEMAN - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat sejak Januari hingga minggu ketiga Juni terdapat 46 kasus leptospirosis. Sebanyak delapan di antaranya meninggal dunia.
Leptospirosis sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira.
Bakteri ini bisa menyebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi.
Beberapa hewan yang tergolong sebagai perantara adalah tikus, sapi, anjing, dan babi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati menjelaskan, apabila ditemukan kasus positif leptospirosis maka akan diterapi dengan obat-obatan dan antibiotik.
Jika pasien leptospirosis diketahui sejak dini maka biasanya dapat diatasi dengan baik.
Namun, apabila sudah derajat lanjut, dia mengatakan ini menjadi terlambat dan sulit diatasi.
Hal ini lantaran sudah ada komplikasi multiorgan. Biasanya yang paling berat adalah gangguan gagal ginjal yang memerlukan hemodialisa atau cuci darah.
"Leptospirosis lanjut dengan gangguan multiorgan memang bisa menyebabkan kematian jika tidak teratasi," tambah Yuli.
Dia menyebut, untuk kewaspadaan adanya peningkatan kasus leptospirosis sudah ada Surat Edaran (SE) dari Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Nomor: PV.03.06/C/176/2025 tanggal 23 Januari 2025.
Untuk menindaklanjuti SE tersebut juga telah dikeluarkan SE Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman tentang Kewaspadaan terhadap leptospirosis dan DBD Nomor 443/1119 tanggal 5 Februari 2025.
"Kemudian ditindaklanjuti dengan bimtek bagi dokter puskesmas dan RS serta dinas terkait dari pertanian," tambahnya.
Diselenggarakan pula pertemuan lintas sektor dalam wadah Tim Koordinasi Daerah zoonosis dan penyakit infeksi baru.
Selain itu, disiapkan SE bupati untuk kewaspadaan dini masyarakat dalam mengantisipasi peningkatan kejadian leptospirosis ini.
"Kami berharap penyakit yang ada hubungannya dengan tikus di persawahan dan korbannya yang kebanyakan petani ini bisa diminimalkan," tambahnya.
Hal senada diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama. Dia menyebut kasus leptospirosis paling banyak terjadi di Ngemplak, Prambanan, dan Moyudan.
"Kalau positif ditangani dengan pemberian antibiotik dan terapi cairan. Serta pengobatan gejala yang timbul dan rujukan ke rumah sakit," terangnya. (del)
Editor : Bahana.