SLEMAN - Wilayah Cebongan, Tirtoadi, Kapanewon Mlati terkenal dengan kerajinan bambunya. Hal ini ditandai dengan adanya Pusat Kerajinan Bambu Cebongan. Meski begitu, perajinnya mengaku penjualan tengah anjlok.
Salah satunya adalah Atidja. Usahanya ini sudah turun-temurun dari kakeknya. Dia sendiri mulai berjualan sejak tahun 1984.
"Produk unggulan khususnya meja, kursi, lemari, dan gazebo. Konsumen bisa minta dibuatkan produk seperti apa," katanya.
Produknya dia jual dari harga Rp 5 ribu hingga Rp 2 juta. Bambu yang digunakan beragam jenis, seperti petung, apus, wulung, tutul, hingga cendani.
Bahan bambu ini tidak lagi berasal dari Cebongan sendiri. Dia sebut bambu sudah banyak habis. Kini disetor dari luar daerah, seperti Magelang dan Purworejo.
"Produk sekarang semakin variatif. Tidak hanya polos tapi dikasih anyaman atau dipadukan rotan," tambahnya.
Perempuan berusia 59 tahun ini menjelaskan, dulunya bisa memiliki hingga sepuluh pegawai. Sementara sekarang hanya dua orang itu pun dipanggil hanya ketika ada pesanan.
Atidja bercerita, dulu ketika jelang Lebaran pesanan akan melimpah. Dia akan produksi sebanyak-banyaknya untuk dikirim ke Magelang, Surabaya, Semarang, Kediri, Malang, hingga luar Jawa. Sementara sekarang, apabila membuat maka produk hanya menumpuk tidak laku.
"Penurunannya banyak. Sekarang yang penting bisa jalan aja. Bertahan karena enggak ada pilihan lain," terangnya.
Pemilik merek kerajinan Nur'aini ini menjelaskan, tidak mengetahui pasti penyebabnya. Dia hanya tahu bahwa persaingan semakin kompetitif. Usaha ini mulai sepi dia sebut bahkan sebelum datangnya pandemi.
Baca Juga: Catatan 100 Hari Kerja Luthfi-Yasin, Bandara Ahmad Yani Kembali Berstatus Internasional
Menurutnya, setidaknya dulu ada 12 pedagang di Pusat Kerajinan Bambu Cebongan ini. Namun, kini hanya tinggal lima karena yang lainnya pilih gulung tikar.
"Bantuan pemerintah paling pinjaman, tapi itu tetap harus mengembalikan," keluhnya.
Dia sendiri berharap agar kondisi bisa ramai seperti semula. Sehingga ke depan usaha ini bisa diturunkan pada anaknya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita