Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hari Jadi Ke-109 Kabupaten Sleman, Merawat Budaya dengan Semangat Kebinekaan

Yogi Isti Pujiaji • Kamis, 15 Mei 2025 | 13:55 WIB

Kirab Budaya: Sebuah wujud pelestarian budaya dan ungkapan syukur atas berkah alam dan persatuan. Dengan semangat nguri-uri kabudayan, Sleman melangkah menjaga warisan leluhur.
Kirab Budaya: Sebuah wujud pelestarian budaya dan ungkapan syukur atas berkah alam dan persatuan. Dengan semangat nguri-uri kabudayan, Sleman melangkah menjaga warisan leluhur.
RADAR JOGJA - Keragaman budaya di Kabupaten Sleman menjadi perekat persatuan bangsa. Akulturasi budaya di Bumi Sembada yang dibingkai semangat kebinekaan kian memperkaya khazanah keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen melestarikan budaya warisan leluhur sebagai bentuk kearifan lokal dalam pembangunan daerah. Sebagai bagian dari Provinsi DIY, Kabupaten Sleman sangat kaya akan budaya. Baik budaya asli maupun hasil akulturasi.

Bupati Sleman H. Harda Kiswaya SE MSi bertekad terus mempertahankan nilai-nilai budaya itu. Dengan tetap menjunjung tinggi keistimewaan DIY. “Kebudayaan yang tersebar di empat kabupaten dan satu kota itu menjadi kekuatan inti Provinsi DIY. Kami di Sleman punya tanggung jawab untuk mempertahankan dan melestarikannya,” ungkap bupati.

Penguatan keberagaman budaya menjadi salah satu misi yang akan terus digaungkan oleh Harda. Melalui beragam program dan kegiatan yang dicanangkan bersama seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman. “Akan saya buat hidup,” tegasnya.

Sebagai nakhoda baru Kabupaten Sleman periode 2025-2030, Harda berencana mengembangkan semua ragam budaya yang ada. Tidak hanya berfokus pada satu jenis budaya. Prinsipnya, budaya apa saja yang ada di Kabupaten Sleman tidak boleh ada yang punah. “Saya sebagai yang dituakan di Kabupaten Sleman punya tanggung jawab moral dan kepemimpinan untuk pengembangan aneka ragam budaya,” tuturnya.

Demikian pula dengan keanekaragaman seni budaya. Terkait hal itu, Harda menghimpunnya lewat paguyuban-paguyuban. Ada paguyuban kesenian religius, tari-tarian, macapat, dan lain sebagainya.

Untuk “menghidupkan” paguyuban-paguyuban kesenian tradisional, Harda berjanji akan menyalurkan bantuan hibah. Agar organisasi paguyu­ban terus dinamis. “Insyaa Allah,” ucapnya.

Harda juga akan melakukan pembinaan dan pendampingan kelompok seni budaya melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Agar para pelaku seni budaya bisa terus eksis dan hidup sejahtera.

Dokumentasi Pemkab Sleman
Dokumentasi Pemkab Sleman

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa SE menuturkan, Kabupaten Sleman kaya akan kultur budaya. Ber­aneka ragam. Baik suku, ras, maupun agama. Itu karena Sleman sebagai kota pendidikan setiap tahun selalu kedatangan ribuan mahasiswa dari luar dae­rah.

Bahkan luar pulau. Itu karena universitas besar negeri maupun swasta hampir sebagian besar berlokasi di Kabupaten Sleman.

Mereka tentu membawa budaya dari daerah asal. Budaya yang dimaksud adalah dalam arti luas. Termasuk kultur dan perilaku keseharian.

Yang tentu saja berbeda-beda. Nah, Pemerintah Kabupaten Sleman, kata Danang, memiliki tugas menyatukan keberagaman budaya itu guna mewujudkan kenya­manan hidup bermasya­rakat.

“Semua budaya itu harus kita rangkul dengan semangat kebinekaan,” ujarnya.

Budaya yang beranekaragam itu, lanjut Danang, harus selaras dengan kultur Provinsi DIY, khususnya Kabupaten Sleman. Selain demi mencegah konflik horizontal, akulturasi budaya sangat penting sebagai perekat persatuan bangsa.

Photo
Photo
Sehingga tercipta sinergisitas budaya. De­ngan begitu Kabupaten Sleman akan lebih kaya budaya adiluhung. “Soal perbedaan budaya, secara prinsip kita harus saling menghormati keberagaman,” ungkapnya.

Menurut Danang, keberagaman budaya itu justru akan menjadi kekuatan dan modal penting bagi pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sleman untuk mengisi pembangunan daerah. “Jangan sampai perbedaan budaya itu malah menjadi pemicu persoalan,” pesan Danang.

Bicara tentang seni budaya, Danang menilainya sebagai salah satu alat pemersatu semua elemen masyarakat yang cukup efektif.

Sebagaimana tradisi atau seni pertunjukan yang biasa digelar di kapanewon dan kalurahan. Misalnya jathilan, pentas wa­yang kulit, merti desa, ketoprak, dan lainnya. (del/yog/gp)

Tak Sekadar Tradisi, tapi Berpotensi Ekonomi

Pengembangan seni budaya di Kabupaten Sleman tak sebatas nguri-uri tradisi. Bukan lagi semata-mata demi melestarikan warisan nenek moyang.

Tapi dikembangkan lagi sehingga bernilai ekonomi. Mereka yang diuntungkan bukan hanya para pekerja seni. Tapi juga warga setempat. Misalnya upacara adat.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman Edy Winarya, SSn MSi mengatakan, melestarikan tradisi itu penting. Guna membangun kerukunan dan gotong royong masyarakat.

Upacara adat di beberapa wilayah Kabupaten Sleman memiliki tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi.

Seperti Upacara Adat Ki Ageng Wonolelo di Kalurahan Widodomartani, Ngemplak. Ada lagi Ritual Saparan Bekakak di Ambar­ketawang, Gamping. Demikian pula Upacara Adat Mbah Bergas di Margoagung, Seyegan.

Menurut Edy, upacara adat tersebut termasuk event besar yang telah menjadi magnet wisa­tawan. Meski berskala regional. Di situlah tercipta potensi ekonomi.

Melibatkan para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) setempat, seniman, dan budayawan. Bahkan masya­rakat bisa terlibat mengelola lahan parkir pengunjung. Roda ekonomi kreatif warga setempat pun ikut berputar.

“Jadi basis pengembangannya tak lagi tentang nguri uri tradisi, tapi ekonomi,” ujarnya.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sleman terus mendorong terbentuknya rintisan desa budaya. Yang kemudian bisa naik kelas menjadi desa budaya. Lalu naik lagi menjadi desa rintisan mandiri budaya.

Hingga akhirnya terbentuk desa mandiri budaya. Hal itu sebagaimana program prioritas gubernur DIY, yang salah satunya mewujudkan desa atau kalurahan mandiri budaya.

Photo
Photo

Terkait hal tersebut, kata Edy, Pemerintah Kabupaten Sleman melakukan langkah-langkah konkret. Dengan fasilitasi, dialog, festival, dan gelar. Itu sebagai bentuk motivasi agar kelompok masyarakat semangat melestarikan seni budaya.

Termasuk mendorong eksistensi langencarita sebagai upaya meregenerasi pelestari seni tradisi budaya. “Dalam dialog itu sekaligus menjadi sarana sosialisasi pembentukan rintis­an desa budaya,” ungkapnya.

Edy menegaskan, rintisan desa budaya di Kabupaten Sleman merupakan bagian dari upaya eksplorasi, revitalisasi, dan aktualisasi kegiatan seni budaya potensial.(del/yog)

Keberagaman Itu Berkah

Tingkat kerawanan horizontal di Kabupaten Sleman dinilai cukup tinggi. Itu karena keberagaman yang memang tak bisa dihindarkan.

Kendati demikian, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Sleman Indra Darmawan SSos MSc menilai, keberagaman itu sebagai berkah tersendiri bagi Kabupaten Sleman.

Kehadiran mahasiswa asal luar daerah yang memadati kampus-kampus di Kabupaten Sleman otomatis turut menghidupkan geliat ekonomi setempat.

Penjaja makanan, pengusaha kos-kosan, dan usaha warung kelontong pun mendapatkan keuntungan.

Belum lagi sektor pariwisata. Keberagaman itu menjadi salah satu penunjang pertumbuhan sektor pariwisata. Ini juga menjadi berkah bagi pelaku usaha pariwisata. “Meski ada potensi kerawanan, keberagaman itu membawa berkah bagi sebagian masya­rakat,” ujarnya.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya menekan potensi kerawanan yang bisa terjadi.

Sesuai dengan visi bupati dan wakil bupati Sleman 2025-2030, yakni “Membangun Masyarakat Kabupaten Sleman yang Maju, Adil Makmur, Lestari, dan Berkeadaban. Juga sejalan dengan misi bupati, yang satu di antaranya adalah

“Pemajuan Kebudayaan dalam Semangat Kebinekaan, Toleransi, dan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta”.

“Itu jelas sebagai komitmen kepala daerah dalam mewujudkan toleransi dan kerukunan masyarakat. Programnya sedang disusun dalam perencanaan,” jelas Indra.

Adapun pendekatan kegiatan yang dilaksanakan adalah pemahaman dasar negara. Sebab, timbulnya gesekan horizontal itu berawal pada pemahaman masyarakat terhadap dasar negara. Baik orang per orang maupun kelompok.

“Alhamdulillah keberagaman itu bisa dipersatukan dengan Pancasila yang merupakan pengikat warga Indonesia untuk menjaga kerukunan,” tuturnya. (del/yog)

Editor : Bahana.
#Hari Jadi Sleman #Yogyakarta #Sleman