Diresmikan Muhaimin Iskandar, SPPG Bumdes Tridadi Akan Terima Dana Rp 800 Juta Sebulan
Delima Purnamasari• Jumat, 9 Mei 2025 | 04:45 WIB
Peresmian SPPG Bumdes Tridadi.
SLEMAN - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bumdes Tridadi di Puri Mataram Beran, Tridadi, Kapanewon Sleman diresmikan pada Kamis (8/5/2025).
Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia Muhaimin Iskandar.
Muhaimin menyampaikan bahwa Bumdes yang mampu menjadi mitra Badan Gizi Nasional ini dapat menimbulkan multiplier efek. Hal ini akan bermuara pada pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menjelaskan, ada tiga fungsi utama SPPG.
Mulai dari sebagai dapur produksi, tempat bertemunya satuan pelayanan dengan produsen, dan tempat ahli gizi memantau produksi agar sesuai dengan standar.
Dia menyebut SPPG ini akan menerima dana kurang lebih Rp 8 sampai 10 miliar dalam setahun.
"Jadi per bulannya Rp 800 juta. Sebanyak 85 persen digunakan untuk membeli bahan baku dari petani lokal," katanya.
Dia menyebut SPPG ini bisa menghasilkan 3000 porsi MBG. Untuk itu diperlukan setidaknya 200 kg beras, 3000 telur, 350 kg ayam, 300 kg sayur, 350 kg buah, bahkan susu 450 liter.
"Semua menjadi peluang masyarakat sekitar memproduksi kebutuhan untuk ikut memasok," katanya.
Dia menyebut Kabupaten Sleman sendiri membutuhkan 111 SPPG. Sementara yang ada kini belum mencapai 50 persennya.
Jadi apabila ada restoran, kafe, atau rumah yang menganggur dapat diubah jadi SPPG. Tidak harus membangun semuanya dari awal.
"Pekerjanya bisa capai 50 orang. Nanti untuk ibu hamil MBGnya akan dikirim ke rumah masing-masing," katanya.
BGN juga akan segera mengirim kepala SPPG. Selain itu, akan dibuatkan rekening bersama antara pemilik fasilitas dengan BGN dalam bentuk virtual akun. Proses produksi bisa berjalan saat uang muka masuk.
"Nanti sekitar 400-450 juta. Jadi yang punya fasilitas tidak perlu modal. Tapi harus tertib administrasi," katanya.
BGN sendiri akan mengeluarkan tiga pagu. Mulai dari bahan baku, operasional, dan insentif. Untuk satu bangunan diperkirakan membutuhkan Rp 3 miliar.
"Nanti setelah dua tahun pemilik fasilitas akan turning poin dari uang insentif. Jadi yang diterima keuntungan saja. Ini investasi luar biasa," katanya. (del)