Kondisi disebabkan hujan deras dengan durasi lama pada hari sebelumnya.
Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Makwan. Dia menyebut atap kerangka kayu yang ambrol memiliki ukuran 8 × 7 meter.
"Puing-puing sudah di bersihkan oleh wali murid dan guru," katanya.
Makwan menyebut ambruknya atap ruang kelas ini juga terindikasi karena sudah keropos dimakan rayap.
Untuk ruang kelas sebelah juga mengalami kondisi yang sama sehingga ketika terjadi hujan sementara dikosongkan.
"Pembangunan atap sekolah tahun 2008," katanya.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Kledokan Sulismiyatun menjelaskan tidak ada korban karena kejadian ini.
Dia bersyukur musibah tidak terjadi pada dini hari sehingga tidak ada kegiatan belajar mengajar.
Dia turut membenarkan kondisi ruang kelas yang mengkhawatirkan.
Dia menyebut atap ruang kelas enam memang sudah keropos dan hampir ambrol.
Untuk mengantisipasinya, bahkan plafon juga telah dilepas untuk mengurangi beban bangunan.
Selain itu, turut dipasang kayu-kayu penyangga tambahan.
"Sampai Jumat kemarin masih dipakai. Sudah enggak ada plafonnya," katanya saat ditemui di lokasi kejadian, Minggu (4/5).
Dia menyebut, tidak bisa melakukan renovasi secara mandiri lantaran keterbatasan dana.
Meski begitu, ruangan ini sebenarnya sudah masuk pemantauan dan direncanakan akan diperbaiki pada bulan Oktober mendatang.
"Tapi karena ini ada pengaruh kejadian alam jadi tidak bisa kami hindari. Sebelum ada renovasi sudah ambruk duluan," katanya.
Sulismiyatun menjelaskan, sebenarnya ruangan tersebut akan digunakan untuk penilaian akhir semester siswa kelas 6 yang nantinya dicantumkan dalam ijazah.
Ujian akan dilaksanakan pada Senin sampai Jumat (5-9/5). Namun, karena kejadian inj ujian akan dialihkan ke ruang kelas 1 dan 2.
"Ini ujian jadi harus dua kelas. Untuk yang lain diperbolehkan pembelajaran daring sembari menunggu perbaikan," katanya.
Dia berharap agar perbaikan bisa segera dilakukan. Hal ini mengingat pada pertengahan bulan akan ada Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah Berbasis Komputer (ASPD BK).
Terlebih, karena kejadian ini fasilitas meja dan kursi juga banyak yang rusak.
"Tapi kalau terbentur program dan anggaran tentu kami harus mencari solusi lain. Mungkin selain kelas 6 belajar di rumah," tandasnya. (del)
Editor : Bahana.