Sehingga, para pedagang pisang yang berada di sekitarnya dipindah pada Kamis (17/4).
Pasar Pisang Pakem sendiri berlokasi di Pakembinangun, Kapanewon Pakem.
Mereka berjualan berbagai jenis pisang di trotoar tepat di sisi Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta.
Ketua Paguyuban Pedagang Pisang Pakem Nanto Suwiryo menjelaskan, mereka sudah berjualan di lokasi ini selama 15 tahun lamanya.
Mereka pindah dari wisata Kaliurang lantaran takut berjualan setelah kejadian erupsi Merapi 2010.
"Awalnya saya sendiri lalu yang lain ikut. Di sana juga enggak berani jualan karena dimakan kera semua," katanya saat ditemui disela-sela proses perpindahan, Kamis (17/4).
Dia mengaku para pedagang memang tidak mengantongi izin untuk berjualan di trotoar ini. Sehingga, mereka menerima ketika dilakukan proses pemindahan. Terlebih, sosialisasi telah dilakukan sejak dua tahun yang lalu.
"Jumlah pedagangnya ada 18 orang. Warga Klaten semua," katanya.
Walaupun begitu, Nanto mengungkapkan bahwa Pasar Pisang Pakem telah menjadi ikon di Jalan Kaliurang. Bahkan, sudah menjadi rujukan wisatawan atau masyarakat yang membuat hajatan.
"Harapannya pemerintah mau membuatkan tempat. Kami nanti mau nyewa atau membeli," katanya.
Nanto menyebut, solusi yang diberikan dari Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta adalah masuk ke Pasar Pakem.
Menurutnya, sebenarnya hal ini berpotensi untuk menurunkan omzet yang didapat. Dalam sebulan sendiri pendapatannya berkisar Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta.
Hal ini karena mempertimbangkan waktu jualan di Pasar Pakem yang terbatas hingga pukul 14.00.
Sementara ketika berjualan di trotoar, pedagang bisa berjualan hingga pukul 18.00. Terlebih, mereka juga menginap di lapak masing-masing.
"Saya kira bisa ditempatkan di sebelah barat Grhasia. Di sana ada pekarangan kosong," katanya.
Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta Akhmad Akhadi menjelaskan, lokasi yang digunakan pedagang merupakan lahan Sultan Ground 7.
Pada tahun 2020 telah dikuasakan pada rumah sakit untuk mengembangkan pelayanan.
"Pembangunan akan dimulai 2026 di lahan belakang pedagang pisang sampai ke arah timur," katanya.
Akhmad menjelaskan, Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta turut memfasilitasi pedagang yang mau berjualan di dalam Pasar Pakem.
Nantinya retribusi pada tahun pertama akan ditanggung oleh rumah sakit.
Namun, dia menyebut sementara ini baru ada empat pedagang yang mau masuk ke pasar. Lainnya memilih untuk menyewa kios secara mandiri di pinggir Jalan Kaliurang.
"Pasar Pakem masih kosong kenapa kemudian berjualan di pinggir jalan. Dari regulasi juga tidak boleh menggunakan trotoar untuk berdagang," terangnya.
Dia menambahkan, selama pedagang pisang ini berjualan pihak rumah sakit maupun pemerintah setempat sama sekali tidak pernah menarik retribusi. Bahkan, meski para pedagang membuat pemukiman non-permanen di belakang lapak.
"Jadi ada kamar mandi segala macem," ucapnya.
Di sisi lain, Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta juga turut menyelenggarakan kenduri dan doa bersama dalam relokasi ini.
Akhmad menyebut ini sebagai simbolisasi untuk para pedagang maupun pegawai rumah sakit agar bisa dilimpahi rezeki dan kesehatan.
Sementara itu, Panewu Pakem Dewanto Tri Nugroho mengaku, merasa bersyukur lantaran perpindahan bisa dilakukan secara damai.
Dia juga mengatakan untuk pedagang jadah tempe turut ditempatkan di halaman Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta.
"Tentu nanti akan kami sambangi dan pantau. Harapannya tentu rezeki pedagang akan sama atau bisa lebih bagus," ucapnya. (del)
Editor : Bahana.