SLEMAN - Bulan Ramadan turut disemarakkan oleh para santri di Pondok Tetirah Dzikir. Sebanyak 50 santri yang telah stabil, disebut mengikuti puasa.
Pondok yang berlokasi di Padukuhan Kuton, Tegaltirto, Kapanewon Berbah ini dikenal lantaran santrinya tidak biasa. Mereka merupakan para pecandu Napza dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Salah seorang pengasuh pondok Sukmawati menjelaskan, total santri 160 orang. Semuanya laki-laki dan mayoritas berasal dari Jogjakarta.
"Mereka yang stabil puasa penuh satu hari. Bisa dibilang mereka ini sudah waras," katanya saat ditemui Selasa (11/3).
Sementara mereka yang belum stabil dan rawan melarikan diri, tidak mengikuti puasa. Jadwal makannya saja yang berubah. Di sisi lain, kegiatan vokasional juga dikurangi intensitasnya, seperti bertani dan beternak.
"Kalau dibanding hari biasa kegiatannya hanya dipindah. Tadarus juga ditambah," katanya.
Para santri ini juga diajak untuk mempersiapkan kegiatan berbuka puasa. Meski tidak memasak, mereka ikut menyiapkan tempat dan makanan. "Menjelang berbuka kami juga melakukan tawasul dan doa bersama," tambahnya.
Istri pendiri Pondok Tetirah Dzikir ini mengakui memang ada kendala tersendiri dalam proses mengajar di bulan Ramadan. Para santri mengaku kerap mengantuk dan lemas. "Tadi ketika ngaji juga hanya beberapa karena bilangnya masih tidur," ujarnya.
Sukmawati berharap Pondok Tetirah Dzikir ini bisa lebih maju lagi. Dengan kata lain, ada tambahan fasilitas karena semakin banyak santri yang masuk dibanding santri yang keluar.
"Jumlah yang keluar hanya 25 persen. Kadang ketika sudah membaik, keluarga juga meminta untuk jadi relawan di sini saja," jelasnya.
Kondisi itu membuat pondok tidak kondusif. Para santri mesti berdesak-desakan. Sukmawati mengatakan, kapasitas pondok sebenarnya sudah penuh.
"Kami juga kekurangan SDM. Jadi kalau memang tidak terkendali, kami sarankan untuk dibawa ke RSJ dulu," tandasnya. (del/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita