SLEMAN - Pupuk subsidi di Kabupaten Sleman belum terserap sempurna. Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) menyebut terdapat mekanisme alokasi ulang.
Plt. Kepala DP3 Kabupaten Sleman Rofiq Andriyanto menjelaskan, serapan pupuk pada 2024 lalu baru hampir 80 persen. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor.
"Musim kemarin siapa yang mau nanem. Luar biasa panas karena terpengaruh juga dengan el nino," katanya.
Dia menyebut hujan baru turun saat akhir tahun. Sehingga tidak memungkinkan untuk mengejar serapan sampai seratus persen.
"Kadang di awal semuanya minta subsidi tapi di perjalanan waktu tanamannya tidak sesuai," katanya.
Rofiq mengatakan, alokasi pupuk subsidi memang untuk jenis tanaman tertentu. Misalnya, padi, jagung, dan kedelai.
Alokasi pupuk subsidi Kabupaten Sleman pada 2025 sendiri untuk urea sebesar 9.492 ton dan NPK 7.470 ton. Untuk serapannya sampai akhir Februari Urea sebesar 900, 01 ton dan NPK 504,47 ton.
"Kalau sekarang serapan baru sekitar sepuluh persen. Tapi waktunya masih panjang sampai Desember untuk nanti naik sampai seratus persen," jelasnya.
Untuk pupuk subsidi sesuai dengan harga eceran tertinggi, yakni Rp 2.300 sampai Rp 2.600. Rofiq menyebut penyuluh di lapangan telah diberi tugas untuk mengawasi agar harga tidak melebihi ketentuan.
"Untuk penebusannya sekarang juga bisa pakai KTP dan tidak harus pakai kartu tani. Jadi akses pupuk subsidi ini semakin mudah," katanya.
Terkait alokasi ulang pupuk subsidi, dia menyebut apabila antara tiap kapanewon bisa melalui surat keputusan bupati. Sementara jika dialihkan untuk kabupaten lain bisa melalui pemerintah provinsi.
Sementara itu, Distributor Pupuk Indonesia Kapanewon Kalasan Hari Duta Nugroho mengatakan, alokasi pada tahun 2024 untuk urea sebesar 804.150 kg dan realisasinya sebesar 678.000 kg. Sementara NPK 640.480 kg realisasi 546.000 kg.
"Realisasi di Kapanewon Kalasan tahun lalu sekitar 85 persen," katanya. (del)
Editor : Bahana.