Tahun Lalu Ada 657 Kasus DBD di Kabupaten Sleman, Paling Banyak Terjadi di Kapanewon Prambanan dan Depok

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Rabu, 5 Maret 2025 | 04:30 WIB

 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman Khamidah Yuliati
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman Khamidah Yuliati
 

SLEMAN - Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sleman pada 2024 tercatat ada 675 kasus. Angka tersebut naik dari tahun sebelumnya sejumlah 147 kasus.

Dari total 675 tersebut, sebanyak enam kasus adalah Dengue Shock Syndrome (DSS). Kondisi ini merupakan bentuk komplikasi berat dari DBD.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman Khamidah Yuliati menjelaskan, lokasi terbanyak ada di Kapanewon Prambanan dan Kapanewon Depok. Hal ini lantaran mobilitas di kedua wilayah tersebut tinggi. Sementara kasus paling sedikit terjadi di Kapanewon Cangkringan.

"Kasus paling banyak terjadi pada Mei, Juni, dan Juli," katanya.

Menurutnya, kenaikan kasus DBD juga terjadi karena pengaruh perubahan iklim terpaan El Nino. Jadi, terdapat peningkatan suhu lebih dari 30 derajat celcius.

"Kondisi ini membuat peningkatan perkembangbiakan nyamuk dan kemampuan menularkan penyakit," katanya.

Dia menyebut banyak upaya dari Dinas Kesehatan Sleman untuk menurunkan angka DBD ini. Misalnya, sosialisasi dan pembentukan kader juru pemantau jentik (Jumantik) dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui bimbingan teknis.

"Kami juga lakukan lavarsida dan fogging. Selain itu, menggunakan teknologi Wolbachia," tambahnya. (del/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Kapanewon Depok Perubahan Iklim fogging el nino jumantik larvasida demam berdarah dengue (DBD) juru pemantau jentik Dengue Shock Syndrome (DSS) tenaga kesehatan nyamuk Kabupaten Sleman Dinas Kesehatan Sleman wolbachia DBD Kapanewon Prambanan kasus Kapanewon Cangkringan komplikasi