SLEMAN - Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu terus dikembangkan. Salah satunya dengan melakukan sinergi dengan delapan pilar ekonomi maupun lingkungan.
Terdiri dari UMKM, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), desa wisata, dan desa budaya. Selanjutnya, gabungan kelompok tani (Gapoktan), kelompok wanita tani (KWT), wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKSBM), dan pegiat sampah.
Baca Juga: Rayakan HPN 2025, Wartawan Sleman Buat Gerakan Sosial
Pendiri Bahana UMKM Bergerak Tetra Budiarto menjelaskan, masih banyak kendala yang dialami oleh UMKM. Mulai dari produksi, perizinan, permodalan, dan pemasaran.
"Silaturahmi jadi salah satu sarana bagi pelaku UMKM untuk menemukan solusi," katanya.
Kegiatan silaturahmi akan terus digencarkan di 86 kalurahan. Rencananya akan dimulai pada April atau Mei setiap seminggu sekali. Sehingga, akan selesai pada dua tahun kurang satu bulan.
Harapannya, UMKM di Bumi Sembada bisa semakin berkembang. Selanjutnya dapat berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi daerah. "UMKM juga lebih inovatif, tangguh, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menjelaskan, sinergi memang jadi strategi yang krusial. Harapannya kapasitas pelaku usaha dapat diperkuat.
"Dapat juga menambah wawasan dan ilmu," ucapnya.
Dia mengatakan, sinergi yang kuat ini juga membantu Pemerintah Kabupaten Sleman untuk memastikan setiap pelaku usaha mampu memperoleh dukungan. Baik itu soal pelatihan, akses modal, maupun pemasaran digital. "UMKM adalah tulang punggung dan pembangkit perekonomian Sleman," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita