Dalam agenda ini terdapat sebelas jenis ubarampe yang dilabuh.
Kegiatan diawali dengan doa yang dipimpin oleh Juru Kunci Merapi Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau yang akrab disapa Mbah Asih.
Selanjutnya, ubarampe diarak dari Pendopo Petilasan Mbah Maridjan menuju Bangsal Srimanganti.
Sebelumnya, juga telah dilakukan kenduri, doa bersama, dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Pertunjukkan ini menghadirkan Ki Mas Riyo Bupati Anom dengan lampahan "Wahyu Kalimosodo"
Ubarampe yang dilabuh sendiri ada sebelas jenis.
Terdiri dari dari satu lembar Nyamping Cangkring, satu lembar Kawung Kemplang, satu lembar Semekan Gadhung
Selanjutnya, satu lembar Semekan Gadhung Mlathi, satu lembar Semekan Banguntulak, satu lembar Kampuh Poleng Ciut, satu lembar Dhesthar Daramuluk.
Lalu terdapat satu lembar Paningset Udaraga, satu wadhah Sela Ritus Lisah Konyoh, satu amplop Yatra Tindhih, dan sepuluh biji Ses Wangen.
"Makna ubarampe itu misal Banguntulak, artinya untuk menolak malapetaka," kata Mbah Asih.
Dia mengatakan, tujuan labuhan ini memang untuk memohon pada Tuhan agar Yogyakarta mendapatkan keselamatan dan dijauhkan dari malapetaka. Termasuk dari bencana Merapi sendiri.
"Kalau Merapi ada sesuatu seperti sedikit erupsi, agar warga bisa tetap aman dan damai," ucapnya.
Mbah Asih menjelaskan, ubarampe yang dilabuh tidak ditinggal.
Namun, akan dilorot atau diberikan pada mereka yang membutuhkan.
"Jadi kalau sudah dipersembahkan lalu ditarik itu lorotan. Tapi harus pesan dulu kalau membutuhkan," ucapnya.
Sementara makanan yang dibagikan pada masyarakat, Mbah Asih mengatakan ini adalah nasi yang sudah didoakan.
Harapannya bisa membawa berkah dan keselamatan.
"Didoakan untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan petunjuk. Mudah-mudahan menjadi berkah," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Dian Lakshmi Pratiwi menjelaskan, acara ini adalah perwujudan keselarasan hubungan antara Tuhan dan alam.
Labuhan sendiri berasal dari kata Labuh yang bermakna persembahan.
"Acara ini juga sebagai tanda penghormatan bagi leluhur yang menjaga Gunung Merapi," ucapnya.
Dian menegaskan, Yogyakarta berdiri di atas nilai-nilai filosofis yang mengakar dan terus tumbuh hingga kini.
Harapannya tradisi yang terselenggara atas dukungan Dinas Kebudayaan DIJ melalui dana keistimewaan ini bisa tetap dilestarikan.
"Ini merupakan perwujudan doa persembahan kepada Tuhan atas rahmat dan anugerah yang diberikan kepada keraton maupun rakyatnya juga," ucapnya. (del)
Editor : Bahana.