SLEMAN - Wikananta Pramudya Bimantara adalah salah satu penggagas dari Kolektif Konco Asu. Kependekan dari Aliansi Sleman Utara. Agenda kolektif mereka bisa ditemukan melalui akun Instagram-nya @koncoasu.yk.
Laki-laki yang akrab dipanggil Dion itu menegaskan, Konco Asu bukan merupakan komunitas. Hanya sekadar tempat berkumpul untuk mengenalkan potensi wisata Sleman utara sekaligus memberi edukasi tentang olahraga.
Laki-laki 32 tahun menyebut, visi tersebut dituangkan dalam tiga program. Pertama adalah edukasi. Fokus mereka saat ini adalah terkait trail running. Dion menilai, banyak masyarakat ingin ikut trail running tetapi belum mengetahui risiko dari olahraga ini.
"Komunitas itu banyak. Tapi jarang yang melakukan edukasi lebih terkait trail running," ucapnya.
Dion menjelaskan, trail running dalam fase tertentu memang termasuk dalam olahraga berisiko tinggi. Mulai dari menyebabkan dehidrasi, kekurangan oksigen, hingga hipotermia.
"Kami sempat membuat edukaisi soal pelatihan penanganan penderita gawat darurat. Pengisinya dari dokter sampai fisioterapi," ucapnya.
Laki-laki yang tinggal di Kapanewon Cangkringan ini menuturkan, program kedua adalah latihan. Umumnya dilakukan pada hari Sabtu. Di sini para peserta bisa bersama-sama untuk melatih tubuh sekaligus mengejar target trail running.
Baca Juga: DLH Gunungkidul Layangkan Teguran terhadap TPS di Patuk yang Terima Sampah dari Kota Jogja
"Jadi, enggak harus lari di kota yang penuh polusi dan bising," ucapnya.
Sementara program ketiga adalah piknik. Khusus program ini Dion akan mengajak peserta yang ikut berjalan-jalan menyusuri berbagai wisata di Sleman Utara.
Salah satunya adalah napak tilas Gunung Merapi 2010. Di sini para peserta diajak untuk melewati desa yang hilang sekaligus mempelajari sejarahnya.
"Kami ajak juga belajar sejarah jembatan Plunyon atau datang ke mata air Umbul Manten," katanya," ucapnya.
Dion menegaskan, keanggotaan Konco Asu bersifat tidak mengikat dan terbuka. Siapa pun bisa bergabung. Dia mengatakan, awalnya perserta yang bergabung hanya belasan, tetapi saat liburan ini bisa mencapai 200 orang.
"Setiap mau bikin program, selalu ada yang bantu. Ada yang bawa makanan atau ada juga yang donatur," ucapnya.
Dion hanya berharap Konco Asu bisa terus jadi tempat silaturahmi. Selain itu, tempat pulang bagi mereka yang sedang merasa lelah atau jenuh dengan pekerjaannya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita