SLEMAN - Sejumlah sekolah di Kabupaten Sleman telah dipilih untuk menjadi lokasi uji coba program makan bergizi gratis. Hal ini dilakukan dengan kerja sama pihak ketiga.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Sleman menyebut hanya jadi penerima manfaat dan belum menyelenggarakannya sendiri.
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Rira Meuthia menyebut, ada tujuh sekolah dasar dan dua taman kanak-kanak yang terpilih. Terdiri dari SD Negeri Nyamplung, SD Negeri Tegalyoso, SD Negeri Mancasan, SD Negeri Gamping, serta SD Muhammadiyah Ambarketawang 1, 2 dan 3. Selain itu, di TK ABA Bodeh dan TK ABA Gamping.
"Kami hanya sebagai penerima manfaat. Untuk pelaksanaan dari kami, masih menunggu dan untuk teknis detailnya belum tahu," ucap Rira.
Dia hanya berharap, nantinya pelaksanaan makan bergizi gratis pada 2025 bukan berada di dinas pendidikan. Hal ini mengingat persoalan Pendidikan sendiri sudah kompleks sementara makanan adalah sesuatu yang sensitif.
"Makanan itu berisiko. Kalau nanti terjadi keracunan dampaknya luar biasa," ucapnya.
Sementara itu, Health and Nutrition Senior Manager Sustainable Development Team PT Sarihusada Generasi Mahardhika Rizky Y Pohan menjelaskan, uji coba makan gratis ini dilakukan antara PT Sarihusada Generasi Mahardhika bersama Indonesia Food Security Review (IFSR). Agenda tersebut dilaksanakan sejak 26 September lalu hingga bulan Desember.
"Kami ingin lihat dari sisi dan efektivitas dari makan bergizi dengan pendekatan empat pilar," ujar perempuan yang akrab disapa Kiki ini.
Pilar pertama adalah makan bergizi sendiri. Pilar kedua adalah edukasi mengenai gizi seimbang, pola asuh, pengolahan sampah, serta perilaku hidup bersih dan sehat. Ketiga, praktik pengolahan sampah di sekolah. Terakhir, pengukuran dampak.
Kiki mengatakan, untuk penyediaan makanan pihaknya bekerja sama dengan UMB Boga. Sembilan sekolah terpilih juga didasarkan pada alasan jarak yang tak jauh dengan lokasi penyedia katering.
"Untuk menu kami mengacu pada Kementerian Kesehatan sesuai kaidah isi piringku. Disesuaikan oleh ahli gizi untuk kebutuhan anak TK dan SD," jelasnya.
Kiki mengatakan, mekanisme makan bergizi ini adalah pemberian susu pada istirahat pertama. Sementara ketika istirahat kedua atau menjelang pulang baru diberikan makan siang.
"Kami masih mengacu dengan anggaran Rp 15 ribu untuk tiap makanan," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita