Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sekadar Diberi Bantuan Sosial, PPDI Sleman Sebut Belum Cukup untuk Wujudkan Disabilitas Mandiri

Delima Purnamasari • Senin, 9 Desember 2024 | 04:55 WIB

 

Ketua PPDI Sleman Sutrisno
Ketua PPDI Sleman Sutrisno

SLEMAN - Program-program pemberdayaan perlu diselenggarakan agar para penyandang disabilitas bisa mandiri. Meski demikian, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sleman menegaskan hal ini tidak cukup dilakukan hanya dengan bantuan sosial (bansos).

Ketua PPDI Sleman Sutrisno mengatakan, para disabilitas perlu perlakuan khusus dan didampingi secara intensif. Apabila hanya diberi pelatihan mereka kesulitan mendapatkan modal. Namun, apabila hanya diberi modal, umumnya akan habis.

"Misal dibantu mesin jahit atau diberi kambing, belum sampai satu tahun nanti dijual," ucapnya.

Dia menilai hal ini terjadi karena tuntutan kebutuhan sehari-hari. Sementara modal yang diberikan tidak segera bisa memberi penghasilan.

Oleh sebab itu, Sutrisno menyebut mereka terkendala sehingga butuh diberikan aksesibilitas. Misalnya, lift untuk mereka yang menggunakan kursi roda. "Ada disabilitas yang sudah mandiri itu bisa punya perusahaan, rumah, dan banyak karyawan," ucapnya.

Di sisi lain, dia menegaskan bahwa tidak semua disabilitas bisa didorong untuk menjadi wirausaha. Banyak dari mereka justru berharap bisa diangkat menjadi karyawan dan mendapat gaji bulanan.

Kemampuan dan minat dari para disabilitas juga perlu dipertimbangkan. Sutrisno mencontohkan, apabila mereka memiliki minat di bidang olahraga bisa didorong untuk masuk ke National Paralympic Committee (NPC).

"Harapan kami sesuai dengan peraturan bahwa hak-hak dan perlindungan disabilitas merupakan tanggung jawab bersama. Dari kepala daerah, dinas, BUMD, swasta, hingga masyarakat luas," jelasnya.

Sutrisno turut menyebut, anggota dari PPDI Sleman mencapai 9.320 orang. Ada berbagai penyandang disabilitas di dalamnya. Mulai dari tuna rungu, tuna netra, hingga tuna daksa.

 

Sementara itu, Mahasiswa Magister Pendidikan Luar Biasa UNY Mar’atu Husnia Alfi menuturkan, ada beberapa tingkatan kemandirian penyandang disabilitas. Pertama, mereka bisa merawat dirinya sendiri. Kedua, bisa menghidupi diri sendiri dan menghasilkan pendapatan. Ketiga, dapat berkontribusi di masyarakat.

Menurut Mar'atu, perlu berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. Penyandang disabilitas ringan bisa jadi hanya perlu fasilitas dan akomodasi. Sementara jenis disabilitas yang lain butuh pendampingan khusus.

"Contohnya disabilitas intelektual. Itu butuh dibukakan lapangan pekerjaan yang sesuai karena kemampuannya sangat spesifik," ucapnya. (del/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#NPC #Sleman #aksesibilitas #Bantuan Sosial #karyawan #National Paralimpyc Committee #tuna daksa #PDPI #pemberdayaan #disabilitas intelektual #Disabilitas #UNY #modal #bansos #program #Tuna Rungu #penyandang disabilitas #tuna netra #mandiri #pekerjaan #perkumpulan penyandang disabilitas Indonesia