SLEMAN - Wilayah Sleman bagian barat memiliki karakteristik sumur dalam. Oleh sebab itu, sistem pengairan yang dikembangkan untuk usaha pertanian adalah melalui irigasi perpompaan.
Sleman Barat sendiri terdiri dari empat kapanewon dengan kebutuhan air yang berbeda-beda. Menurut data dari BPS, di Kapanewon Moyudan terdapat 3.155 unit sawah yang tergantung pada irigasi, di Godean 2.398 unit, di Minggir sebanyak 3.369 unit, serta di Seyegan sejumlah 3.485 unit.
Baca Juga: Mudah Terdistraksi Handphone ketika Bekerja atau Belajar? Metode Pomodoro Solusinya
Plt Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono menjelaskan, sistem irigasi perpompaan ini telah dicoba di tiga lokasi. Dua berada di Kapanewon Moyudan dan satu di Kapanewon Minggir.
"Dari sungai yang airnya hanya terbuang ke laut itu kami manfaatkan untuk irigasi. Satu irigasi perpompaan bisa untuk 25-30 hektare," jelas Suparmono.
Baca Juga: Viral di Media Sosial Video Dugaan Penculikan Anak di Magelang, Polisi: Itu Penganiayaan
Meski demikian, jarak dari sungai dengan sawah maksimal hanya 500 meter. Ke depan, Suparmono menargetkan sistem ini bisa digunakan untuk sawah yang berjarak 1-1,5 kilometer dari sungai. "Kalau Sleman barat mau dibuat sumur harus dalam sekali. Tidak bisa dibuat sumur ladang," ucapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan Sleman bagian tengah dan timur. Air tanahnya relatif tidak dalam sehingga sumur ladang efisien digunakan. Terlebih, harga pembuatannya juga murah.
Suparmono menuturkan, tahun depan ada rencana untuk menambah lima sistem irigasi perpompaan. Jumlah tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian. "Semoga nanti dari APBD juga ada dukungan dana. Kalau air cukup, panen yang biasanya hanya dua kali bisa sampai tiga kali," tandasnya.
Sementara itu, salah satu petani Mugiyo menjelaskan, air memang kebutuhan pokok dari petani. Dia sendiri mengaku memilih beralih menanam bawang merah daripada padi ketika musim kemarau.
"Untungnya lebih besar. Bisa sampai empat kali lipat kalau dibandingkan padi," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita