Untuk membantu mengatasi persoalan ini, BPBD telah menyalurkan bantuan air sebanyak 294.300 liter dari Kamis (3/10) hingga Rabu (23/10) kemarin.
Kapanewon pertama yang terdampak adalah Minggir, tepatnya di Kalurahan Sendangrejo, Sendangagung, dan Sendangsari.
Selanjutnya, Kapanewon Moyudan di Kalurahan Sumberrahayu dan Sumberagung.
Ketiga adalah Kapanewon Mlati di Kalurahan Tlogoadi. Jumlah totalnya ada 256 KK dengan 1.625 orang terdampak.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro menjelaskan, kondisi ini utamanya karena faktor cuaca yang memasuki akhir musim kemarau.
Selain itu, dampak dari pematian Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck.
"Jadi respirasi air dalam tanah terganggu sehingga debit sumur menyusut. Kalau pun ada airnya, keruh dan tidak layak konsumsi," katanya, Kamus (24/10).
Menurutnya, meski Saluran Van Der Wijck sudah dibuka kembali, kebutuhan akan bantuan air akan terus terjadi selama hujan tak turun.
"Tapi tahun lalu lebih parah karena ada el nino. Sampai Januari 2024 awal kami masih kirim bantuan air," tambahnya.
Bambang bercerita, dalam setiap pengiriman bantuan air ini memerlukan proses panjang. Utamanya dalam memastikan kesiapan dari penduduk terkait penampungan.
BPBD juga akan melakukan pendataan dahulu mengenai jiwa terdampak untuk menyesuaikan kebutuhan air. Dengan demikian, masyarakat tidak saling berebut.
"Kalau masyarakat membutuhkan bisa menghubungi Pusdalops. Tapi airnya jelas tidak mungkin diecer dari ember," ucapnya.
Bambang menuturkan, ketersediaan air untuk bantuan hingga kini masih aman.
Apabila nantinya diperlukan, BPBD juga akan meminta bantuan berbagai pihak, termasuk perusahaan di Sleman.
Dia turut meminta masyarakat untuk ikut berkontribusi.
Misalnya, dengan menyimpan air dengan sumur resapan, mencari sumber air melalui Pamsimas, mengusulkan pada PDAM apabila jaringan di wilayahnya belum masuk, hingga membuat kolam penampungan.
Sementara itu, warga Margokaton, Seyegan Dian Mafilenia Febrianti bercerita jika pada 2023 beberapa sumur di desanya surut saat aliran Selokan Mataram dimatikan.
"Waktu itu ada bantuan toren di beberapa titik. Kurang lebih tiga tiap RT," ujarnya. (del)
Editor : Bahana.