SLEMAN - Peningkatan produksi buah salak di Sleman masih menghadapi beragam kendala. Utamanya disebabkan karena banyaknya pohon yang sudah berusia tua.
Tercatat pada 2019, terdapat luas lahan panen sebesar 2.163,43 hektare dengan produksi salak 510.111,73 kuintal. Sementara pada pada 2023, luasan panen menurun menjadi 1.240,5 hektare dan produksinya sebesar 483.895,16 kuintal.
Data tersebut menunjukkan penurunan luasan panen sekaligus hasil produksi. Meski demikian, penurunan luas panen sebesar 42 persen dan penurunan produksi hanya 5,13 persen. Kondisi ini juga menunjukkan peningkatan produktivitas.
"Saat ini kami tengah mengembangkan dua varian salak madu, yakni Salak Madu Balerante dan Salak Madu Sokomartani," sebut Plt Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Suparmono.
Dia menjelaskan, salak madu banyak disukai konsumen lantaran dagingnya yang empuk dan lebih manis dibanding salak pondoh. Pada 2023 sendiri, luas panen salak madu mencapai 167,89 hektare.
Dia menyebut, sentra produksi salak masih berada di Kapanewon Turi, Tempel, dan Pakem. Menurutnya, peningkatan produksi salak perlu dilakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan domestik, bahkan mancanegara. "Tapi usia banyak tanaman salak yang sudah tua," katanya.
Untuk menangani masalah ini, Pemkab Sleman memberikan bantuan pupuk organik, pupuk kimia, dan ember untuk melakukan pencangkokan. "Kami melakukan kegiatan sekolah lapang, pelatihan, bimbingan teknis, dan pendampingan agar petani bisa menerapkan good agricultural practices," ungkapnya.
Khusus di masa kemarau, DP3 Sleman akan membuat demonstrasi penerapan teknologi irigasi tetes. Dengan pasokan air yang cukup, diharapkan tanaman salak bisa tetap produktif.
Sementara itu, Ketua DPRD Sleman Sementara Gustan Ganda menyebut, salak asli Sleman memiliki kompetitor dari berbagai daerah lain. Untuk itu, dia menekankan pentingnya merek bagi salak asli Sleman. "Kalau menjaga daulat salak saja kita tidak mampu, bagaimana kita mau menjaga daulat pangan," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita