SLEMAN - Pengelolaan sampah organik masih jadi pekerjaan rumah bagi Kabupaten Sleman. Mengatasi hal tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman merilis pilot project bertajuk Gerbang Sik Asik Jumat (18/10/2024).
Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Sleman Eni Yuliani menjelaskan, program ini akan diselenggarakan di tiga padukuhan. Pertama Padukuhan Kuwang, Argomulyo, Cangkringan. Kedua, Padukuhan Mandungan 1, Margoluwih, Seyegan. Ketiga, Padukuhan Sangurejo, Wonokerto, Turi.
"Hitungan kami dengan 600 KK, bisa mengurangi sampah 127 kilogram setiap hari," katanya.
Warga sendiri diminta untuk melakukan pemilahan. Selanjutnya, sampah organik akan diolah menjadi kompos. Dalam program ini DLH Sleman, turut menawarkan untuk membeli hasil kompos seharga Rp 1.300 tiap kilogram. "Mereka baru mulai 6 Oktober. Ini akan kami pantau dan evaluasi," ucap Eni.
Dia hanya berharap, kegiatan ini bisa direplikasi oleh seluruh wilayah di Sleman agar masalah sampah organik bisa terselesaikan. Terlebih, dua TPST di Sleman kini hanya akan mengangkut sampah anorganik dalam bentuk curah. Hal ini lantaran pengolahan sampah organik yang menyebabkan bau tak sedap.
"Kami juga akan membentuk konten di media sosial. Jadi masyarakat tahu kalau mengelola sampah organik itu mudah," ujar Eni.
Sementara itu, Pjs Bupati Sleman Kusno Wibowo menyebut, volume sampah di Sleman mencapai 500 ton tiap harinya. Kondisi ini hanya bisa diminimalkan dengan perubahan pola pikir bahwa tidak semua sampah harus berakhir di pembuangan.
"Sampah bisa dikelola dan didaur ulang. Masyarakat harus bisa memulai memilah sampah," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita