SLEMAN - Sumbu filosofis sebagai warisan budaya yang ditetapkan UNESCO mesti dilestarikan. Salah satu upayanya lewat Festival Garis Imajiner, Rabu (12/9)/2024. Dalam pagelaran yang keempat ini, sumbu filosofis terus dihadirkan di tengah masyarakat.
"Sumbu filosofis ini garis maya yang menghubungkan Laut Selatan, Panggung Krapyak, Keraton Jogja, Tugu Pal Putih, sampai Gunung Merapi," ujar Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan Sleman Eko Ferianto.
Pada tahun ini tema yang dibawa adalah upacara adat di Sleman. Sebanyak 17 kapanewon menyuguhkan ciri khasnya masing-masing. Di antaranya, Kapanewon Gamping yang membawa Upacara Adat Saparan Bekakak. Warga membawa sesaji yang menjadi sarana keselamatan khususnya bagi penambang batu gamping.
Sementara Kapanewon Prambanan mengusung upacara adat wiwit ageng yang umum dilakukan sebelum panen padi. Upacara ini sebagai harapan akan hadirnya Dewi Sri sebagai lambang kesuburan.
Ada pula Kapanewon Turi yang membawakan upacara adat kirab toya panggesangan. Ini adalah bentuk syukur atas kesuburan hasil pertanian karena air yang cukup. Di sini para warga membawa air di dalam kendhi pertolo. "Tema ini sebagai bentuk memohon keselamatan. Ini tahun politik dan kerukunan mulai rentan," ucap Feri.
Dia berharap, melalui acara yang diikuti oleh hampir seribu orang ini, warga Sleman juga bisa lebih mengetahui soal sumbu filosofis. Ditargetkan ke depan kegiatan ini bisa terkoneksi dengan Kota Jogja maupunKabupaten Bantul. "Ini adalah kekayaan yang hanya dimiliki oleh warga Jogja saja," ucapnya.
Baca Juga: Keistimewaan Sumbu Filosofis Jogja jadi Perhatian Utama Proyek Tol Jogja-Solo
Feri optimistis, setiap pagelaran adat yang dibentuk dengan usaha keras akan menjadi sebuah pesta yang akan dirindukan oleh masyarakat.
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menjelaskan, festival ini merupakan upaya edukasi mengenai sejarah. Garis imajiner adalah simbol keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.
Kustini juga mengajak warga Sleman untuk memaknai nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak nilai adihulung dalam peristiwa sejarah. “Semua masyarakat harus merasa memiliki," pesannya. (del/din)
Editor : Din Miftahudin