SLEMAN - Grha Sabha Pramana (GSP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Selasa (10/9/2024) dijubeli sekitar tiga ribu audiens, sebagian besar mahasiswa. Mereka Mereka hadir untuk mengikuti talkshow dengan tiga narasumber kenamaan: Najwa Shihab, Nicholas Saputra, dan Dewi 'Dee' Lestari.
Ketiga narasumber berada dalam satu panggung dan secara bergantian menyampaikan materi sesuai kapabilitas dan bidang kerja masing-masing. Namun ada benang merah dari seluruh materi yang disampaikan. Mereka berpesan kepada para anak muda untuk benar-benar memanfaatkan dan mengoptimalkan diri dengan status mahasiswa yang disandangnya.
"Untuk teman-teman mahasiswa, apa pun pilihan pekerjaan kalian nanti, lakukan dengan ketulusan dan percaya pada aspirasi kalian. Hal yang penting juga, anak muda harus punya creative dan critical thinking," kata Najwa Shihab disambut gemuruh audiens.
Najwa menekankan, menjadi mahasiswa merupakan sebuah keistimewaan. Sebab, periode mahasiswa jadi momen di mana seseorang bisa mengekplorasi minat dan bakat secara maksimal.
"Banyak di antara kalian mungkin masih bingung soal passion atau tujuan ke depan. Tapi itu hal yang wajar. Kuncinya terus latih apa yang kalian mau dan inginkan," pesannya.
Mantan pembawa acara berita di televisi nasional ini meminta mahasiswa mencoba melakukan beragam cara. Dikatakan, passion itu bukan wangsit yang tiba-tiba datang. "Itu harus dimulai, dari hal kecil yang ditekuni lalu jadi sesuatu yang besar," tutur perempuan alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) ini.
Pada kesempatan itu, Najwa juga membahas peran anak muda dalam konteks demokrasi. Ia menegaskan, penting bagi anak muda untuk peka dan secara aktif terlibat dalam berbagai hal yang berkaitan dengan demokrasi.
"Tadi saya workshop dengan 50 mahasiswa. Saya provokasi dan harapkan agar makin banyak anak muda yang mau jadi jurnalis," paparnya.
Penuturan lain datang dari Nicholas. Senada dengan Najwa, ia juga mempercayai momentum masa muda adalah proses paling ideal untuk melakukan eksplorasi dan belajar sebanyak-banyaknya.
"Saya main film pertama itu SMA, sempat ditentang orang tua juga. Akhirnya saya putuskan lanjut dan meyakinkan pilihan saya ke orang tua," katanya.
Karena itu, lanjut Nicholas, passion dia dan melakukannya dengan penuh komitmen. "Terlepas kalian tahu passion-nya apa, hal yang lebih penting itu komitmen," pesan aktor yang bermain di film Ada Apa dengan Cinta ini.
Ia mengamati, passion seringkali disalahartikan oleh anak muda. Di mana mereka menganggap passion adalah hal-hal yang sifatnya kesenangan semata.
"Passion itu harus diuji, melalui gagal, sedih, dan proses. Setelah melewati itu dan kita masih mau melakukan, baru menurut saya itu passion," lontarnya.
Selanjutnya penulis sekaligus penyanyi kenamaan, Dee Lestari sedikit banyak membahas tentang perkembangan dunia yang saat ini makin dinamis. Ia mengakui saat ini orang bisa menjadi apa saja, asal punya niat dan komitmen untuk terus belajar dan berkembang.
"Terlepas pendidikan formal kita apa, sekarang akses pada ilmu, dan teknologi itu jauh lebih terbuka. Kalian bisa jadi apa saja yang kalian mau," beber penulis novel Perahu Kertas ini.
Termasuk bagi anak muda yang berkeinginan menjadi penulis atau penyanyi seperti dirinya, menurutnya, hal itu sangat mungkin tercapai. Bahkan tanpa harus datang dari latar belakang pendidikan linear.
"Kuncinya adalah story telling. Itu sangat penting dan relevan dengan banyak sekali hal. Menulis, menyanyi, itu butuh story telling. Kalian patut bersyukur karena sekarang sudah jauh lebih mudah untuk belajar dan mengakses banyak hal," tambahnya.
Apresiasi juga disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM Arie Sujito. Menurutnya, sesi diskusi itu sangat penting dilakukan, sebab bisa jadi medium untuk menstimulus gagasan yang ada dalam diri mahasiswa.
"Semoga ini bisa meningkatkan kreativitas mahasiswa. Saya harap ini juga dimanfaatkan oleh mahasiswa dengan sebaik mungkin," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita