Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Merti Umbul Temanten di Padukuhan Lojajar, Ngaglik, Sleman sebagai Wujud Konservasi Air melalui Kebudayaan Jawa

Delima Purnamasari • Senin, 9 September 2024 | 02:43 WIB

 

 

WUJUD SYUKUR: Warga Padukuhan Lojajar, Ngaglik, Sleman saat menggelar Merti Umbul Temanten Minggu (8/9/2024).
WUJUD SYUKUR: Warga Padukuhan Lojajar, Ngaglik, Sleman saat menggelar Merti Umbul Temanten Minggu (8/9/2024).

RADAR JOGJA - Kebudayaan tidak terbatas pada aktivitas seni. Di Padukuhan Lojajar, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, kebudayaan justru menjadi cara melindungi mata air bernama Umbul Temanten. 

"Ini wujud syukur kami karena sudah diberi anugerah berupa mata air yang tidak pernah surut walaupun kemarau panjang," ungkap Dukuh Lojajar Drajat Giri Pawoko Minggu (8/9/2024). 

Drajat menjelaskan, air dari Umbul Temanten ini senantiasa bisa memenuhi kebutuhan air untuk rumah tangga dan pertanian. Di sisi lain, juga masih dipercaya sebagai air bertuah. 

"Pada malam tertentu masyarakat masih melangsungkan ritual tapa kungkum. Ada yang sengaja datang dari luar kota sampai luar negeri," tegasnya. 

Oleh sebab itu, acara tahunan ini terus dilakukan. Harapannya, agar mata air dari Umbul Temanten dapat terus mengalir hingga generasi berikutnya. "Kegiatan ini dilakukan dari 2014, tapi sempat berhenti karena Covid-19. Baru kembali lagi 2022," tambahnya. 

WUJUD SYUKUR: Warga Padukuhan Lojajar, Ngaglik, Sleman saat menggelar Merti Umbul Temanten Minggu (8/9/2024).
WUJUD SYUKUR: Warga Padukuhan Lojajar, Ngaglik, Sleman saat menggelar Merti Umbul Temanten Minggu (8/9/2024).

Merti umbul ini diawali dengan kirab sesaji dan air sumber empat kiblat lima pancer dari dusun menuju umbul. Prosesi ini dikawal oleh barisan bergada dan warga Dusun Lojajar yang terdiri dari empat RT. Sesampainya di umbul, dilakukan upacara ritual wilujengan dan pengambilan air umbul oleh warga untuk dibawa pulang. 

"Pengambilan mata air sumber empat kiblat lima pancer yang nanti disatukan dengan mata air umbul temanten adalah simbol menyatunya masyarakat dengan alam," tegas Drajat. 

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menjelaskan, konsistensi kegiatan tiap tahun menunjukkan budaya gotong royong yang kuat dari masyarakat setempat. "Semoga bisa rutin dilaksanakan dan bisa jadi contoh anak-anak agar ke depan agar bisa mengikuti," harap Danang. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#ngaglik sleman #wujud syukur #umbul temanten