RADAR JOGJA - Salah satu upaya menekan angka stunting adalah melalui aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil (Elsimil). Melalui aplikasi buatan BKKBN ini, dapat diperoleh data sebagai dasar dalam melaksanakan berbagai program dan kebijakan.
Plt Technical Asisten Satgas PPS Sleman Asteria Heni Widayati menuturkan, dilihat dari data Elsimil capaian dari Kabupaten Sleman sebenarnya cukup baik. "Kabupaten sudah bergerak untuk melaksanakan rapat percepatan stunting," ucapnya.
Menurut data Elsimil bulan Januari hingga Juni 2024, khususnya dalam bidang pendampingan calon pengantin (catin) wanita, dari 538 catin, sudah ada 81 persen yang menerima edukasi dari kader TPK.
Sementara pada bidang pendampingan ibu hamil, performa pendampingan di Kapanewon Moyudan, Ngemplak, Prambanan, dan Pakem perlu ditingkatkan. Sebab, di empat kapanewon tersebut capaiannya masih di bawah 65 persen.
Selanjutnya, dalam bidang pendampingan ibu pasca-persalinan, pendampingan mencapai 100 persen. Dari 832 ibu pasca-persalinan, 11 persen ibu hamil juga menerima rujukan dan 10 persen menerima bantuan sosial.
Sementara untuk pendampingan baduta, belum semuanya menerima. Dari Dari 7.175 baduta, baru 93 persen baduta menerima yang menerima pendampingan. "Kami fokus pada faktor tidak langsung sehingga melaksanakan edukasi dan sosialisasi. Sementara untuk penanganan spesifik langsung jadi ranah dinas kesehatan," ungkap Asteria.
Dia berharap, seluruh kader tim pendamping keluarga bisa bersinergi dan kompak. Dengan begitu, segala kekurangan bisa dioptimalkan.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Bina Ketahanan Keluarga Dinas P3AP2KB Sleman Panti Nugroho menuturkan keberadaan kader TPK sangat krusial. "Mereka mendampingi keluarga untuk pendataan dan bimbingan. Jadi pasangan bisa melahirkan anak sehat dan tidak stunting," sebutnya. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika