Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Universitas Akprind Indonesia Terjunkan Mahasiswa ke Agrowisata Pengklik, Kembangkan Wisata Hingga Bantu Petani dengan Teknologi Springkle

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 24 Agustus 2024 | 19:15 WIB
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo (kerudung biru) Pejabat Kalurahan Madurejo dan Tim Akprind melakukan tinjauan lapangan di lahan pertanian dengan pengairan metode Speingkle. 
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo (kerudung biru) Pejabat Kalurahan Madurejo dan Tim Akprind melakukan tinjauan lapangan di lahan pertanian dengan pengairan metode Speingkle. 

SLEMAN - Universitas Akprind Indonesia menyelenggarakan program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) di Desa Wisata Pengklik, Madurejo, Prambanan.

Selama enam bulan mahasiswa Akprind diterjunkan untuk ikut mengelola dan mengembangkan desa wisata Pengklik.

Desa Wisata Pengklik merupakan salah satu destinasi agrowisata di daerah Sleman.

Untuk mendukung agrowisata tersebut, salah satu program PDB Akprind adalah membuatkan lorong tanaman anggur di gerbang masuk obyek wisata.

Selain memperindah juga sebagai tambahan koleksi tanaman yang ada di pengklik.

Salah satu tanaman unggulan yakni bawang merah di kawasan tersebut dinilai masih mengalami kendala terkait pengairan.

Melihat permasalahan tersebut tim dari Akprind lalu menghibahkan sebuah teknologi pengairan springkle dengan tenaga surya.

Teknologi tersebut untuk membantu petani yang menggarap.

"Mahasiswa juga membuat konten medsos, website tiktok, instagram untuk mempromosikan desa wisata pengklik," ujar Ketua Tim Hibah Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Akprind Indonesia, Aji Pranoto saat ditemui di wisata Pengklik, Sabtu (24/8/2024).

Wisata Pengklik merupakan lokasi awal program PDB dari Akprind.

Nantinya selama tuga tahun ke depan program tersebut akan dilanjutkan ke beberapa destinasi wisata lainnya.

Setiap destinasi wisata diharapkan bisa menjadi kawasan edukasi.

"Mahasiswa di terjunkan selama 6 bulan, nanti dikonversi dalam mata kuliah KKN dan praktik," jelasnya.

Tim Akprind berada di lahan pertanian dengan pengairan metode Speingkle. 
Tim Akprind berada di lahan pertanian dengan pengairan metode Speingkle. 

Total terdapat enam mahasiswa yang turun langsung ke lapangan yakni dari jurusan Teknologi Mesin (DIII), Teknik Mesin (S1) dan Informatika.

Keenam mahasiswa dibimbing oleh Tim Hibah Pemberdayaan Desa Binaan yang beranggotakan Muhammad Soleh, I Gusti Gede Badrawada, Aji Pranoto dan Eko Sugiarto dari Stipram Yogyakarta.

Hibah ini merupakan hibah dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek),  Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Salah satu pengelola lahan pertanian Agrowisata Pengklik, Supriyadi menambahkan perbedaan menggunakan springkle mempengaruhi kontur tanah.

Menurutnya struktur tanah menjadi gembur dan tidak terdapat lapisan tanah yang menutupi.

"Kalau diguyur itu pasti ada lapian tanah yang menutupi pori-pori tanah jadi air yang masuk sedikit antara 3-5 cm," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo juga hadir untuk meninjau agrowisata Pengklik khususnya agrowisata yang mendukung ketahanan pangan.

Menurutnya, pengembangan teknologi pertanian sangat membantu para petani.

"Terimakasih Akprind telah mendampini petani, supaya brambang (bawang merah) di Sleman kualitasnya lebih unggul," ujarnyaa. (oso)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Mahasiswa #Universitas AKPRIND Indonesia #Pertanian #argowisata #Teknologi Springkle #Kembangkan #Wisata #Agrowisata Pengklik #program #Petani #Pemberdayaan Desa Binaan #Bantu