RADAR JOGJA - Musim kemarau membuat sumber air begitu minim. Kondisi ini membuat petani di Jogotirto, Berbah, Sleman mencoba beralih untuk menanam bawang merah.
"Di sini sebenarnya sedang percobaan. Tapi untungnya ternyata satu sampai empat kali lipat dibanding padi," tutur salah satu petani Mugiyo.
Laki-laki 59 tahun tersebut menuturkan, pada musim kemaru seperti ini tanaman bawang merah justru memiliki kondisi yang baik.
"Ketika di awal penanaman, bedengnya dipenuhi air. Setelah itu, disiram biasa saja," tutur Mugiyo.
Sebaliknya, ketika musim penghujan, kualitas tanaman bawang merah ini biasanya akan turun. "Air hujan mengandung asam kalau kebanyakan busuk daunnya," tutur Mugiyo.
Ketika musim hujan, petani juga perlu memberikan perlakuan ekstra dengan mensterilkan tanaman menggunakan air tawar. Sebab, tingkat keasaman harus sangat dijaga.
"Minimal pH-nya 5. Kalau asamnya tinggi tanaman tidak subur. Bisa pakai kapur dolomit untuk menaikkan," terangnya.
Setelah satu tahun menanam bawang merah, Mugiyo mengaku akan kembali coba menanamnya dengan sistem tumpang sari. Di sini, bawang merah dipadukan dengan tanaman cabai.
"Bawang merah untuk konsumsi setelah 60 hari sudah bisa panen. Kalau untuk bibit, 70-80 hari," tambah Mugiyo.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Suparmono menjelaskan, kebutuhan air untuk pertanian sebenarnya masih dalam kadari mencukupi.
Baca Juga: Tingkatkan Produksi Padi saat Musim Kemarau, Kementan Dorong Perluasan Areal Tanam Padi
"Kekeringan hanya di spot-spot kecil, seperti di Prambanan dan Ngemplak. Tidak terlalu besar," jelasnya.
DP3 sendiri menyediakan beberapa program pendukung. Di antaranya irigasi air tanah dangkal, memberikan pompa berikut selang, hingga sumur ladang untuk kelompok wanita tani. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika