RADAR JOGJA - Ruang terbuka hijau (RTH) penting sebagai paru-paru kota. Namun, di Kabupaten Sleman penambahan RTH sulit dilakukan lantaran keterbatasan lahan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman Epiphana Kristiyani mengaku, selain kesulitan memperoleh lahan, penambahan RTH juga memerlukan anggaran yang besar untuk pengadaannya. "Jadi di Sleman programnya sekadar mempertahankan dan meningkatkan kualitas RTH saja," ujar Epiphana.
Program mempertahankan RTH ini dilakukan dengan pemeliharaan rutin. Seperti pemangkasan pohon di jalanan agar tertata sekaligus upaya mitigasi bencana.
Sementara peningkatan kualitas dilakukan dengan penambahan fasilitas. Misalnya, di lapangan kalurahan atau kapanewon ditanami rumput. Selain itu, penambahan mainan anak dan media olahraga. Di sisi lain, potensi penurunan jumlah RTH justru besar. "Ketika ada pelebaran jalan jadi perindangnya hilang. Tapi ini juga ada kepentingan publik di dalamnya," tutur Epiphana.
DLH Sleman saat ini sedang fokus untuk melakukan pendataan RTH. Sebab, data yang ada masih terbatas pada lapangan, makam, taman publik, hingga taman sepanjang jalan. "Kami ingin mendata wana desa yang dibangun kalurahan karena bagian dari RTH," tuturnya.
Menurutnya, RTH yang murni jumlahnya masih sedikit. Sebagian besar justru RTH kawasan perkotaan yang menumpang milik jalan. "Kalau yang taman itu di Denggung, Taman Perdamaian Perambanan, atau Taman Maguwoharjo," rincinya.
Dengan kondisi ini, dia hanya berharap masyarakat bisa ikut menjaga RTH yang ada agar bisa terus bertahan. "RTH jadi tutupan hijau untuk memproduksi oksigen. Untuk yang taman aktif juga jadi wahana sosialisasi masyarakat," terangnya.
Sementara itu, warga Sleman Dian Indri Astuti menuturkan, keberadaan RTH ini amat penting. Utamanya sebagai sarana untuk menyegarkan pikiran bagi mereka yang suntuk seharian berada di dalam ruangan. "Apalagi kemarau jadi cuaca makin panas. Belum lagi banyak kendaraan," tuturnya. (cr1/eno)