RADAR JOGJA – Sekelompok orang yang tergabung dalam Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya untuk kali pertama menggelar pertunjukan luring Kamis (8/8). Mengundang penonton di Padukuhan Brayut, Cangkringan, Sleman.
"Saat pandemi kami pentas secara online. Tapi apresiasi penonton tinggi, penonton YouTube sampai ribuan," ujar Koordinator Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya Risang Yuwono.
Namun kondisi tersebut tidak bisa dirasakan saat pentas luring. Sebab untuk mencari penonton 20 orang dengan harga tiket Rp10 ribu saja mereka kesulitan. Sementara ketika mereka membuka donasi secara daring, jumlah yang diperoleh jauh lebih tinggi.
"Ini jadi kegusaran kami. Predikat sukses seperti apa yang kami harapkan? Tiket laris terbeli atau menjaga nilai?" tanya Risang.
Menghadapi dilema tersebut, Risang mengaku memilih menjaga nilai-nilai dalam Ketoprak Tobong. Dia ingin kemerdekaan dalam berkarya tidak terbatas pada nilai-nilai ekonomi.
"Kalau berubah mending main dangdut di platform digital atau menggelar jatilan. Dari parkirnya saja sudah dapat jutaan," jelasnya.
Risang menyadari, ada harga yang harus dibayar untuk sebuah nilai. Ada uang yang perlu dihasilkan untuk memelihara kebudayaan. Oleh sebab itu, dia coba mengembangkan strategi tersendiri dengan melakukan pendekatan dengan orang-orang yang satu frekuensi.
"Ada orang yang membantu karena dia kangen nonton ketoprak sama simbahnya. Ada juga yang memberi sponsor snack kecil-kecilan," ujarnya.
Risang tak menampik, sifat keras kepala untuk menjaga nilai ini memiliki konsekuensi tersendiri. Salah satunya adalah belum bisa berpindah-pindah lokasi layaknya ketoprak tobong.
"Kalau menetap apa bisa disebut tobong? Tapi menyenangkan atau tidak, kami menetap di sini sejak 2015," ujarnya.
Walau demikian, setidaknya mereka bisa memberikan hiburan bagi masyarakat yang merasa rindu. "Ada yang uangnya kurang untuk tiket. Ada yang sekadar bawa kacang atau mi. Apa tega kami menolak mereka? Ini bukan konser no tiket no entrance," ujarnya.
Pada pementasan kali ini sendiri, Risang dan timnya menafsirkan ulang film pendek yang pernah mereka buat bertajuk Ati Segara Ibu Bangsa dan Kisah Para Wanita Hebat. Di sini mereka menafsirkan kisah ketoprak di masa lalu yang tak banyak dipedulikan, salah satunya adalah Ibu Pangeran Diponegoro.
Semua usaha ini, bagi Risang, dilakukan demi dua tujuan sederhana
"Kami juga tengah menyiapkan ide-ide gila lainnya," tegas Risang.
Meski budaya ketoprak ini sudah tidak bisa menjamin kehidupannya, Risang mengaku tetap optimistis. Dia yakin semua ada jalannya. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika