RADAR JOGJA - Menurut pusat penelitian bahasa Ethnologue, sebanyak 14 bahasa daerah sudah punah dan tidak memiliki penutur lagi. Sementara itu, bahasa Jawa juga dalam kondisi rentan.
“Banyak penutur muda hilang karena orang tua tidak mengajarkan. Begitu lahir, kenalnya bahasa Indonesia,” tutur Staf Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Sleman Eko Widodo saat ditemui pada Kompetisi Bahasa dan Sastra 2024 di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman Selasa (30/7).
Menurut Eko, bahasa Jawa memang belum hilang. Tetapi berkurangnya penutur ini menjadikannya riskan. Padahal, bahasa Jawa unik karena memiliki tingkatan khusus sehingga cenderung lebih santun.
Dia juga mengaku belum pernah menemukan diktat dan modul bahasa Jawa yang menarik dan memperhatikan keterbacaan. Misalnya, jumlah kata tiap baris, jumlah baris tiap halaman, hingga porsi gambar dan tulisan. “Beda dengan bahasa Inggris yang sudah banyak modulnya,” jelas Arif.
Menurutnya, bahasa Jawa yang mulai ditinggalkan ini harus dilestarikan kembali. Khususnya di lingkup keluarga karena sekolah hanya bisa berperan sebagai stimulus.
“Penyelenggaraan acara, kompetisi, dan festival tetap penting. Utamanya apabila ditujukan bagi anak-anak,” ujar Arif. (cr1/eno)