RADAR JOGJA - Persaingan untuk mendapatkan pelanggan kos tidaklah mudah. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemilik kos adalah menawarkan kos bebas atau kos Las Vegas (LV).
"Kalau pisah tidak laku. Sekarang modelnya campur-campur,” ujar salah seorang pemilik kos LV di wilayah Sleman, sebut saja Budiman (nama samaran).
Ia menuturkan, kalau pun dibuat kos khusus laki-laki, belum tentu bisa memastikan hal-hal yang tidak diiinginkan bisa dicegah. Sementara jika dibuat khusus perempuan, dia menganggap jumlah pelanggannya akan turun karena ruang kosnya yang sempit. Pemilihan kos ini dianggap sebagai usaha untuk menarik pelanggan sebanyak mungkin.
Dia mengelola 15 kamar kos berukuran 2x3 dan 3x4 bersama kakak perempuannya. Ada yang berupa paviliun dengan fasilitas lengkap seharga Rp 850 ribu tiap bulan dan rumah yang disekat menggunakan triplek menjadi kamar-kamar kecil seharga Rp 450 ribu setiap bulan. "Harian juga bisa. Semalam Rp 150 ribu untuk kamar mandi dalam dan Rp 100 ribu untuk kamar mandi luar," ujarnya.
Budiman mengakui, menyewakan kos bebas penuh dengan risiko. Dia sendiri berupaya untuk selalu menjalin komunikasi dengan warga sekitar. Dengan harapan kosnya tidak digerebek seperti milik teman-temannya.
Ia juga meminimalkan risiko dengan melarang penyewa untuk membawa narkoba dan minuman keras. "Belum ada seminggu, ada laki-laki bawa tiga perempuan, ternyata bawa pil koplo. Langsung ditangkap polisi," ujarnya.
Menurutnya, dia hanya berusaha memberikan harga kos yang murah bagi para pelanggan. Persoalan apa pun yang terjadi di dalam kamar adalah urusan masing-masing. Pihaknya hanya ikut membantu keamanan melalui pantauan CCTV di area rumah. “Risiko zina ditanggung sama konsumen. Intinya kalau ada apa-apa ditanggung sendiri," ucapnya.
Dia tidak menerapkan syarat khusus bagi calon pelanggannya. Hanya fotokopi KTP bagi laki-laki maupun perempuan yang ingin menggunakan. "Tapi ada juga yang laki-laki atau perempuan sendiri,” ceritanya.
Salah satu kesulitan mengelola kos bebas adalah para pelanggan yang kerap pergi begitu saja setelah habis sewa. Semua barang dan pakaiannya ditinggal. "Saya pernah menemukan alat kontrasepsi belum dipakai, langsung saya bakar,” ujarnya.
Budiman mencoba menghapal ciri-ciri calon pelanggan kos yang bermasalah. Ketika menemukan orang yang berwatak keras atau emosian, akan langsung ditolak. "Saya bilang baru saja laku. Lalu saya kasih ganti uang bensin Rp 20 ribu. Mending rugi di depan,” katanya seraya tersenyum.
Dia hanya berharap para pelanggan bisa lebih menghargai para pemilik kos. Utamanya soal kesesuaian biaya sewa dan fasilitas yang diminta. "Masih pelajar minta kos bebas. Dana tipis. Minta kamar mandi dalam dan fasilitas lengkap,” keluhnya. (cr1/laz)
Keuntungan Jadi Alasan Utama Pemilik Kos LV, yang Penting Tidak Berbuat Kriminal dan Ribut dengan Warga
Kos-kosan bebas (LV) cukup menjamur di Jogjakarta. Ironi di kota pendidikan ini memang tidak bisa dipungkiri. Salah satu penyebabnya karena sebagian pemilik kos ingin mencari keuntungan lebih tinggi.
Salah seorang pemilik kos LV di Kemantren Wirobrajan, Kota Jogja, Bruno (bukan nama sebenarnya) mengatakan, sudah sejak lima tahun terakhir ini membuka usaha kos-kosan. Awalnya indekos miliknya bukan merupakan kos LV. Namun ditujukan bagi penghuni pria.
Seiring waktu, banyak penghuni kos yang kemudian menanyakan tentang peraturan indekos. Salah satu pertanyaan yang kerap diajukan adalah tentang boleh tidaknya membawa pasangan.
Dia pun mengiyakan dengan peraturan tertentu. Yakni pintu harus dibuka dan tidak boleh sampai melebihi jam 10 malam. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, sekaligus mengantisipasi adanya pandangan buruk dari masyarakat.
"Memang awalnya kos-kosan yang saya miliki bukan kos bebas, tapi ditujukan untuk mahasiswa pria," ujarnya saat ditemui Jumat (26/7).
Namun seperti umumnya usaha yang pasang surut, ia mengakui usaha kos-kosan miliknya sempat sepi penghuni karena dihantam pandemi Covid-19 lalu. Hal itu yang kemudian membuat ia mengalihkan indekos dari semula pria menjadi kos-kosan pasangan suami istri (pasutri).
Selama masa pandemi, kos-kosan pasutri memang cukup diminati. Pun fasilitas di kos-kosan miliknya juga bisa dibilang cukup untuk dihuni dua orang. Ukuran kamar 4x3 meter dengan fasilitas kamar mandi dalam.
Dari segi keuntungan juga lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dia mencontohkan, selama menjadi kos-kosan pria biaya sewa kamar per bulan dipatok Rp 600 ribu per bulan. Namun ketika menjadi kos-kosan pasutri, ia bisa mematok harga bagi penyewa kamar Rp 750 ribu-Rp 800 ribu per bulan.
Walaupun disebut sebagai kos-kosan pasutri, dia mengakui tidak pernah menanyakan kepada penghuni apakah sudah menikah atau meminta dokumen resmi bukti pernikahan. Hal itu tidak dilakukan karena dia pun merasa tidak enak kepada penghuni perihal status perkawinan.
Bruno pun membebaskan aktivitas yang dilakukan para penghuni kos. Entah mau pulang malam, membawa wanita ke dalam kamar maupun sampai menginap. Terpenting baginya penghuni sudah membayar sesuai kesepakatan harga dan tidak membuat keributan dengan sesama pemilik kos maupun masyarakat sekitar.
Perihal permasalahan sosial, kata dia, selama usahanya berjalan tidak ada kendala. Sebab di awal dia sudah menyampaikan kepada masyarakat dan pemangku wilayah bahwa kos-kosan miliknya merupakan pasutri. Sehingga masyarakat sekitar pun bisa memaklumi ketika ada aktivitas pria maupun wanita di indekos miliknya.
"Sehingga mau dikatakan kos pasutri atau LV saya terserah. Karena saya sudah menyampaikan kalau kamar kos bisa dihuni pasangan," tanadas Bruno. (inu/laz)
Editor : Satria Pradika