RADAR JOGJA - Penyandang disabilitas kerap kali jadi kelompok yang paling rentan saat terjadi bencana. Untuk itu, upaya mitigasi mesti dilakukan secara inklusif.
Artinya, mengubah pesan mengenal risiko bencana dengan lebih sederhana. “Jadi, mudah ditangkap oleh penyandang disabilitas,” ujar tim penyebaran informasi BPPTKG Noer Cholik saat Wajib Latih Penanggulangan Bencana (WLPB) Goes to School di SLB Negeri 1 Sleman Jumat (19/7).
Pengubahan pesan ini dilakukan Noer dengan menggunakan permainan dan gerakan langsung. Salah satunya dengan meminta anak-anak mencari daun dan batu-batuan di sekitar sekolah. Harapannya, mereka mengetahui bencana gunung merapi bisa memberi dampak kesuburan dan tambahan material.
Menurutnya, SLB Negeri 1 Sleman yang berjarak 14 kilometer dari puncak Merapi memiliki risiko terkena hujan abu. “Di sini sudah masuk program Satuan Pendidikan Aman Bencana, tapi justru untuk gempa dan bukan erupsi,” tambahnya.
Noer juga menyiapkan film dengan durasi pendek untuk memberikan pengalaman audio dan visual. Pihaknya turut bekerja sama dengan guru bahasa isyarat yang membantu menyampaikan pesan bagi tunarungu dan tunawicara. “Bahasa teknis kami ubah lebih umum. Misal berkoordinasi jadi berkumpul,” jelasnya.
Sementara Kepala SLB Negeri 1 Sleman Khamim Nur Mutiah menjelaskan, program ini merupakan bagian dari kegiatan MPLS. Tahun ini sekolahnya menerima 22 siswa baru. “Tapi semua siswa diikutkan kegiatan. Jumlahnya 106 orang,” tuturnya.
Khamim menjelaskan sekolahnya menerima beragam siswa disabilitas. Di antaranya, tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autis. “Kami menerima jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas,” tambahnya.
Dia berharap melalui acara ini para siswa bisa memahami dan tahu cara menyelamatkan diri apabila ada bahaya gunung berapi. “Utamanya menyelamatkan diri sendiri dan lingkungan terdekat,” tutur Khamim. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika