Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pagu Danais Disbud Sleman Berkurang, dari Rp 22 Miliar Jadi Rp 17 Miliar

Delima Purnamasari • Sabtu, 13 Juli 2024 | 05:40 WIB
NGURI-URI BUDAYA: Kegiatan Festival Langen Carita yang diadakan Dinas Kebudayaan Sleman beberapa waktu lalu.
NGURI-URI BUDAYA: Kegiatan Festival Langen Carita yang diadakan Dinas Kebudayaan Sleman beberapa waktu lalu.

 

RADAR JOGJA – Pagu dana keistimewaan (danais) yang diterima Kabupaten Sleman tahun ini berkurang. Jika pada 2023 mencapai Rp 61,8 miliar, kini hanya Rp 44,5 miliar. Hal ini pun turut berdampak pada penerimaan danais di Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman.


“Awalnya kami mengusulkan sama dengan 2023,” ucap Kepala Subbagian Perencanaan dan Evaluasi Dinas Kebudayaan Sleman Maria Kristiani Jumat (12/7).


Disebutkan, tahun lalu pagu anggarannya mencapai Rp 22 miliar. Sedangkan tahun ini, hanya Rp 17 miliar. Turunnya anggaran ini, akan berdampak pada pemberian fasilitas pada kelompok masyarakat. Sebab hanya terbatas 120 kelompok. Padahal 2023, jumlah kelompok masyarakat yang mengajukan proposal bantuan mencapai 1.014. Dengan kelompok yang dibantu mencapai 514. “Data sampai Kamis (11/7), sudah ada 198 proposal yang masuk,” rincinya.


Maria mengaku, dinasnya sudah aktif melakukan sosialisasi hingga Juni terkait perubahan ini. “Kami ke kapanewon, lembaga kebudayaan, hingga kelompok masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, juga ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan sama persis dengan tahun sebelumnya. Utamanya ini adalah acara berjenjang.

“Misal Festival Langen Carita. Nanti pemenangnya akan dikirim ke provinsi,” ujar Maria. Dia mengaku, tahun ini tidak ada alokasi anggaran terkait pembuatan taman budaya. “Tahun 2025 saya pesimis akan ada juga. Nanti 2026 baru akan kita ajukan lagi,” jelasnya.

 

Menurut Maria, proyek taman budaya sendiri merupakan usaha dari Dinas Kebudayaan Sleman untuk memberikan ruang bagi seluruh seniman untuk berekspresi. Pada 2023, anggarannya sudah ada. Tetapi terkena efisiensi anggaran sehingga belum dilakukan pembangunan. “Sudah ada tanahnya dan sudah dilakukan pengeringan lahan. Di daerah Temon,” ujar Maria.


Salah satu pegiat kebudayaan Fairuz Realindra menuturkan, kebudayaan hanya bisa dihasilkan dengan kegiatan secara terus-menerus. Untuk itu, dia mengaku pemerintah sudah semestinya melakukan penguatan lingkungan dan masyarakat. “Apalagi sekarang sudah banyak kebudayaan baru yang terbentuk dan jadi tradisi baru,” ujarnya. (cr1/eno)

Editor : Satria Pradika
#Danais #Disbud Sleman #kapanewon