RADAR JOGJA – Kabupaten Sleman jadi daerah paling rawan di DIY dalam penyebaran narkoba. Menurut BNNP DIY per Januari 2024, Sleman memiliki enam dari 12 lokasi rawan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di DIY. Salah satunya berada di Kapanewon Mlati.
Penyuluh BNN Sleman Fandi Eko Prasetyo menuturkan, peredaran tersebut umumnya ada di lingkup indekos atau kontrakan eksklusif. “Privasinya tinggi sehingga tidak ada pemantauan,” katanya di kantor BNN Sleman Senin (8/7.)
Titik rawan selanjutnya adalah di sektor hiburan malam yang biasanya terdapat penjualan minuman beralkohol. “Misal Mlati. Statusnya itu waspada,” tambah Fandi.
Pihaknya juga menyoroti peredaran narkoba dari anak-anak sekolah. Mereka yang belum memiliki penghasilan sendiri ini umumnya akan mengonsumsi pil sapi. “Harganya terjangkau, satu pil sekitar Rp 2.000,” jelasnya.
Menurut Fandi, penjualan pil sapi ini menggunakan alat transaksi yang disebut dengan kartu kuning. “Kami cari penyebaran penggunaan kartu ini. Entah dari dari teman, bandar, oknum, atau kurir,” tuturnya.
Pihaknya sendiri fokus mengajak masyarakat untuk ikut bergerak melalui program Desa Bersih Narkoba (Desa Bersinar). Pun saat ini, intervensi untuk Kalurahan Sinduadi, Mlati dan Kalurahan Sinduharjo, Ngaglik tengah dilakukan. "Masing-masing nanti akan dipilih sepuluh keluarga untuk ikut bergerak bersama kami," katanya.
Lurah Sinduadi Senen Haryanto menjelaskan, daerahnya memang rawan penyalahgunaan narkoba. Sebab berbatasan dengan wilayah kota yang banyak hiburan malam.
"Di Dusun Kragilan saja sempat ada beberapa kali temuan," katanya.
Pihaknya mengaku sulit mendeteksi penyebaran narkoba ini. "Tidak tampak gerakannya, tahu-tahu ada warga kami yang terlibat," sambungnya.
Menurutnya, Desa Bersinar di wilayahnya akan fokus pada program edukasi. Senen menjelaskan bahwa pengurus Desa Bersinar sudah terpilih lengkap dan tengah melakukan penyusunan program kerja. "Baru dibentuk dua bulan ini. Titik fokusnya nanti ada di orang tua dan keluarga," ucapnya. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika