Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sudah Tiga Orang Meninggal Dunia Karena Leptospirosis, Dinas Kesehatan Sleman Minta Warga Waspadai Peralihan Musim

Iwan Nurwanto • Minggu, 26 Mei 2024 | 16:48 WIB
AKTIF LAGI: Isolasi terpusat Rusunawa Gemawang yang sempat kosong, kembali terisi pasien Covid-19 kemarin (20/7). Saat ini, pasien yang menempati rusunawa sudah mencacapi 10 orang.(WULAN YANUARWATI/RADAR JOGJA)
AKTIF LAGI: Isolasi terpusat Rusunawa Gemawang yang sempat kosong, kembali terisi pasien Covid-19 kemarin (20/7). Saat ini, pasien yang menempati rusunawa sudah mencacapi 10 orang.(WULAN YANUARWATI/RADAR JOGJA)

SLEMAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman meminta masyarakat untuk waspada terhadap penyebaran penyakit leptospirosis. Terlebih pada peralihan musim penghujan ke musim kemarau seperti sekarang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman Khamidah Yuliati mengatakan, kewaspadaan terhadap penyakit tersebut perlu karena ada temuan pasien meninggal dunia. Dari kurun bulan Januari hingga Mei ini sudah ada tiga orang meninggal dunia dari total 19 kasus.

Dia mengungkap, pada peralihan musim seperti sekarang potensi penyebaran berbagai penyakit memang cukup meningkat. Terlebih pada jenis penyakit yang disebarkan melalui genangan air seperti leptospirosis dan demam berdarah dengue (DBD).

Adapun untuk temuan penyakit DBD sendiri hingga bulan Mei mencapai 199 kasus. Dinkes Sleman juga mencatat ada satu kasus meninggal dunia di kapanewon Sleman.

“Genangan air hujan yang sedikit-sedikit tersebut biasanya akan menjadi tempat berkembang biak nyamuk dan bakteri leptospira,” ujar Yuli sapaan akrabnya, Minggu (26/5)

Sebagai upaya pencegahan leptospirosis, Yuli meminta, agar masyarakat menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah agar tidak menjadi lokasi bersarang hewan pengerat. Serta melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Sementara untuk mengantisipasi adanya DBD, menurut dia, masyarakat dapat melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Serta melakukan tiga 3M, yakni mengubur benda-benda maupun tempat yang berpotensi genangan, menguras, serta menutup tempat penampungan air.

Baca Juga: Westlife The Hits Tour 2024 di Candi Prambanan, Dihelat 7 Juni, Dimeriahkan Bintang Tamu Christian Bautista

“Dengan berbagai upaya PHBS dan PSN harapannya dapat menekan kasus DBD maupun leptospirosis,” tegas Yuli.

Ketua Komisi D DPRD Sleman M. Arif Priyo Susanto berharap, agar program Wolbachia perlu dilanjutkan karena terbukti efektif mencegah penyebaran DBD. Disamping itu, juga perlu adanya kesadaran dari masyarakat. Serta sosialisasi yang masif dari pemerintah terkait dengan pencegahan DBD.

“Tidak hanya Dinkes tetapi semua dinas bergerak. Termasuk dinas pendidikan di sekolah-sekolah, Dinas PU memperbaiki drainase, DLH juga. Serta semua dinas-dinas yang lain,” tegas Priyo. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Leptospirosis di Sleman #Kabupaten Sleman #leptospirosis