RADAR JOGJA - Puluhan peserta kategori anak dari berbagai daerah antusias mengikuti gelaran Festival Dalang Cilik (FDC) yang diadakan oleh UNY dalam rangkaian dies natalis ke-60. Ketua Panitia FDC Agus Murdiyastomo mengatakan, FDC jadi agenda rutin tahunan dan kini telah memasuki tahun ke-13 penyelenggaraan.
"Ini sudah ke-13 kali, dengan lokasi baru di Kampung Emas Krapyak IX, Seyegan, Sleman, katanya kepada Radar Jogja, kemarin (12/5). Ia mengungkapkan, antusiasme pendaftar sendiri setiap tahunnya cukup masif. Namun dari UNY sendiri sengaja membatasi jumlah peserta untuk efektifitas festival. "Setiap tahun kami batasi dengan 30 peserta untuk jenjang SD dan SMP," terangnya.
Dikatakan, peserta tidak saja datang dari wilayah DIJ semata, namun dari kota-kota lain seperti Klaten, Sukoharjo, Jepara, bahkan dari Lampung. Tujuan diadakannya FDC salah satunya memang diproyeksikan untuk menjaring calon-calon dalang baru dari kategori anak untuk regenerasi.
Selain itu, semangat yang juga diusung adalah untuk melestarikan budaya Indonesia secara umum. "Ini bagus sebagai media pelestarian budaya. Lebih bagus lagi diterapkan pada anak-anak sedini mungkin," paparnya.
Agus bercerita, dalam konteks pendidikan tinggi aspek pelestarian budaya juga jadi salah satu urgensi penting, termasuk di UNY. Diakui saat ini ada mata kuliah wajib bagi para mahasiswa UNY, yakni mata kuliah apresiasi seni dan budaya.
"Itu matkul wajib yang kami beri di semester awal. Penting untuk menanamkan apresiasi budaya pada mereka," tutur dosen yang mengampu ilmu sejarah ini.
Sementara itu, salah seorang peserta FDC Juan Baptist Satya Pradipta membeberkan, wayang adalah kesenian sekaligus budaya yang amat kaya dan menarik untuk dipelajari. "Baru belajar sekitar dua tahun terakhir, karena ikut kakak yang kebetulan juga suka wayang," ungkap siswa kelas 5 SD Kanisius, Depok, Sleman, ini.
Ke depan Juan ingin mendalami lebih banyak lagi seputar dunia wayang. Kesukaannya itu juga mendapat dukungan penuh dari orangtuanya. Bentuk dukungan yang diberikan mulai dari memfasilitasi berbagai alat dan kebutuhan mendalang, hingga memasukkannya ke sanggar seni pewayangan. "Selain itu ada guru khusus yang mengajari soal dalang dan wayang ke rumah. Iu rutin seminggu tiga kali," ungkapnya. (iza/laz)