SLEMAN - Harga beras untuk saat ini tengah melambung tinggi. Sayangnya, dampak dari hal tersebut belum terlalu dirasakan oleh petani di Kabupaten Sleman.
Ini lantaran gabah juga belum bisa dijual karena belum masuk masa panen.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tirto Sembodo Tirtomartani, Kalasan, Janu Riyanto mengatakan, pada prinsipnya harga beras naik memang akan menguntungkan petani.
Namun, sayangnya situasi saat ini petani di Kapanewon Kalasan belum masuk masa panen.
Sehingga, dampak kenaikan harga beras pun belum bisa dirasakan secara langsung oleh para petani.
Oleh karena itu, dia pun berharap agar harga beras bisa sama seperti situasi sekarang atau naik lebih tinggi. Agar ketika masa panen nantinya petani tetap mendapatkan keuntungan.
“Kalau posisinya saat ini di Kalasan belum pada panen atau yang panen baru sedikit banget. Sehingga belum merasakan imbas kenaikan (beras) ini,” ujar Janu kepada Radar Jogja, Rabu (28/2).
Janu membeberkan, untuk situasi sekarang harga jual gabah kering panen berada pada kisaran Rp 8.000 sampai Rp 8.500 per kilogram.
Sementara untuk gabah kering giling mencapai kisaran harga Rp 12.000 per kilogram dan harga beras rata-ratanya Rp 17.000 per kilogram.
Jika melihat harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah melalui Badan Pangan nasional Republik Indonesia melalui Surat Edaran nomor 47/TS.03.03/K/02/2023.
Harga tersebut melampaui harga batas atas gabah yang nilainya sebesar Rp 4.550 per kilogram.
Lalu untuk harga beras medium HET yang ditetapkan sebesar Rp 10.900 sampai Rp 11.800 kilogram.
Sementara untuk harga beras premium sebesar Rp 13.900 sampai Rp 14.800 per kilogram.
Lebih rinci tentang hitung-hitungan keuntungan, Janu mengungkapkan, bahwa harga pokok produksi (HPP) untuk 1.000 meter persegi lahan pertanian padi, petani harus merogoh kocek Rp. 2 juta.
Biaya itu meliputi pembayaran tenaga serta pembelian benih dan pupuk.
Dari luas lahan 1.000 meter itu jika cuaca cukup bagus maka bisa menghasilkan 7 kuintal gabah dengan harga jual Rp 4 juta.
Dari pendapatan itu dikurangi HPP di awal masa tanam sebesar Rp 2 juta.
Walaupun ada keuntungan sebesar Rp. 2 juta, Janu mengaku, belum bisa mensejahterakan petani. Lantaran keuntungan panen tersebut baru dirasakan oleh petani setelah tiga bulan pasca masa tanam.
Pada situasi sekarang, menurut Janu, justru yang menjadi momok menakutkan bagi kalangan petani adalah masifnya program operasi pasar murah dan rencana impor beras.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat membuat harga beras anjlok ketika masa panen nantinya. Padahal saat masa tanam biaya yang dikeluarkan oleh petani juga tidak sedikit.
“Sehingga harapan kami beras bisa naik sampai Rp 20 ribu per kilogram, supaya petani juga bisa merasakan ada sisa usaha (untung besar),” katanya. (inu)