Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dampak Hujan Disertai Angin Kencang Kembali Terasa di Sleman, BPBD Catat Ada Sembilan Titik Kejadian Bencana

Iwan Nurwanto • Senin, 26 Februari 2024 | 02:07 WIB
SEGERA: Petugas BPBD Sleman dan relawan saat melakukan evakuasi dampak bencana angin kencang pada Minggu (25/2).
SEGERA: Petugas BPBD Sleman dan relawan saat melakukan evakuasi dampak bencana angin kencang pada Minggu (25/2).

SLEMAN - Dampak bencana hidrometeorologi kembali terasa di kabupaten Sleman. Setelah pada Sabtu (24/2) tercatat ada 33 titik dampak bencana.

Hari ini (25/2) kembali ada sembilan titik dampak bencana meliputi tanah longsor hingga pohon tumbang.


Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengatakan, dari pendataan pihaknya hingga pukul 15.52.

Ada tiga kapanewon yang mengalami kejadian bencana. Wilayah terbanyak ada di kapanewon Ngemplak dengan tujuh titik kejadian bencana.


Meliputi pohon tumbang yang menutup akses jalan di Padukuhan Kayen, Wedomartani. Lalu atap rumah ambrol dan pohon tumbang menimpa rumah di Padukuhan Blotan, Wedomartani. 

Selain itu, tanah longsor di Padukuhan Jetis, Wedomartani yang menimpa mobil dan merusak bangunan Joglo.


Selain itu, di wilayah tersebut juga terjadi pohon tumbang yang menimpa atap dapur di Padukuhan Terung.

Lalu atap galvalum yang rusak dan genteng yang rontok akibat diterjang angin kencang di Padukuhan Blotan, Wedomartani.


Makwan melanjutkan, bahwa dampak hujan disertai angin kencang juga terasa di Kapanewon Depok.

Tepatnya di Padukuhan Dero, Condongcatur terjadi tanah longsor yang menimpa bangunan SD Negeri Karangasem dan menutup akses jalan warga.


“Selain itu di kapanewon Godean juga ada kejadian baliho papan nama miring dan bersandar ke jaringan telepon,” ujar Makwan dalam keterangannya, Minggu (25/2).


Dia menyatakan, bahwa sampai saat ini masih ada beberapa titik yang belum terkondisi oleh petugas maupun relawan.

Pihaknya pun terus berkoordinasi dengan instansi terkait serta mendistribusikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana. 


Sebelumnya, Makwan menyebut, hampir seluruh kapanewon di kabupaten Sleman memiliki potensi terdampak bencana hidrometeorologi.

Berupa pohon tumbang hingga atap rumah yang berterbangan akibat diterpa angin kencang atau puting beliung.


Menurutnya, pasca musim kemarau panjang potensi bencana pohon tumbang dan tanah longsor akan meningkat.

Sebab, setelah mengalami kemarau panjang tanah akan dalam kondisi sangat kering.


Tanah yang kering atau merekah itu, lanjut Makwan, dapat mudah gembur ketika diguyur air hujan.

Sehingga memungkinkan pohon atau bangunan yang terikat dengan tanah tersebut mudah roboh ketika diterpa angin kencang.


“Karena itu kami meminta masyarakat jika melihat pohon berukuran besar maka kurangi tajuknya (dahan),” pesannya.


Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengaku, belum dapat menyampaikan secara rinci dampak kerugian akibat bencana hidrometeorologi selama dua hari terakhir.

Lantaran pihaknya sampai saat ini juga masih terus melakukan penghitungan.


Meskipun demikian dari catatan BPBD Sleman pada Sabtu setidaknya ada 33 titik kejadian bencana akibat angin kencang.

Meliputi pohon tumbang yang menimpa rumah hingga kendaraan serta atap rumah yang berterbangan.


“Untuk total kerugiannya secara nominal rupiah belum dapat disampaikan, karena masih dihitung,” terang Bambang. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#Tanah Longsor #bencana hidrometeorologi #Pohon Tumbang