SLEMAN - Harga beras di Kabupaten Sleman dalam beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan cukup signifikan. Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) pun mengungkap berbagai penyebabnya.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman Suparmono mengatakan, produksi padi pada musim tanam pertama tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Faktornya disebabkan karena anomali cuaca El Nino yang berlangsung dari bulan Oktober 2023 hingga awal tahun kemarin.
Disamping itu, menurut Pram, adanya pematian Selokan Mataram dan Van Der Wijck juga pada bulan Oktober lalu juga cukup berpengaruh. Khususnya terhadap ketersediaan air selama masa tanam padi.
“Namun demikian tetap masih ada panen padi pada sawah yang diairi oleh sungai seperti Berbah, Ngemplak dan Prambanan,” ujar Pram, Minggu (25/2).
Dia membeberkan, bahwa pada awal tahun ini setidaknya ada sekitar 664 hektare lahan yang berpotensi dapat ditanami.
Sementara untuk luas lahan padi yang dapat panen pada Februari ini mencapai 1.000 hektare.
Pram memprediksi, pada bulan Maret nanti produksi padi mulai meningkat dan mencapai puncaknya atau panen raya di bulan April.
Adapun perkiraan luas lahan yang panen dari Maret hingga April mencapai 10.000 hektare dengan produksi beras mencapai 37.000 ton.
“Jumlah itu diharapkan mampu mencukupi kebutuhan selama bulan ramadhan dan lebaran nanti, serta menjawab kekhawatiran stok pangan,” sambungnya.
Lebih lanjut, dari hasil pantauan DP3 harga beras maupun gabah di Kabupaten Sleman cukup dipengaruhi permintaan dan ketersediaan.
Adapun harga gabah kering panen (GKP) mulai pertengahan bulan Februari ini mencapai Rp 7.200 per kilogram.
Sementara untuk gabah kering giling (GKG) sebesar Rp 8.500 per kilogram. Lalu untuk harga beras medium sudah mencapai Rp 15.000 per kilogram dan harga beras premium Rp 17.000 per kilogram.
Menurut Pram, harga tersebut melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah melalui Badan Pangan nasional Republik Indonesia yang mengeluarkan Surat Edaran nomor 47/TS.03.03/K/02/2023.
Dalam peraturan tersebut harga batas bawah gabah Rp 4.200 per kilogram. Sementara harga batas atas gabah Rp 4.550 per kilogram.
Lalu untuk harga beras medium HET yang ditetapkan sebesar Rp 10.900 sampai Rp 11.800 kilogram.
Sementara untuk harga beras premium sebesar Rp 13.900 sampai Rp 14.800 per kilogram.
“Kami berharap petani bisa menikmati panen saat ini dengan suka cita, seiring harga tinggi yang berlangsung di pasaran,” tandas Pram.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Mae Rusmi Suryaningsih mengklaim, stok bahan pokok khususnya beras tetap aman hingga Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah mendatang.
Dia juga berupaya agar ketersediaan maupun harga beras tetap stabil hingga lebaran.
Upayanya dilakukan dengan menggelar operasi pasar murah agar masyarakat bisa mendapatkan bahan pokok dengan harga lebih rendah. Lalu arapannya berdampak pada penurunan harga di pasaran.
Dia pun optimistis harga beras stabil lantaran sudah ada informasi bahwa pemerintah pusat bakal melakukan impor beras.
“Harapan kami dengan adanya pasar murah ini sampai dengan lebaran harganya syukur bisa turun, tapi harapannya tidak naik. Karena saat ini (harga beras) sudah sangat tinggi dan memberatkan masyarakat,” beber Mae. (inu)