SLEMAN - Harga beras di kabupaten Sleman sampai saat ini masih belum turun di kisaran Rp 16.500 per kilogram.
Pemkab Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) pun berencana menggelar operasi pasar murah agar harga komoditas bahan pokok itu bisa kembali normal.
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Sleman Kurnia Astuti mengatakan, penyebab melambungnya harga beras dikarenakan produksinya yang menurun dampak dari fenomena El Nino.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat musim panen padi mundur.
Dia menyatakan, untuk menyikapi tingginya harga beras Disperindag Sleman sudah berkoordinasi dengan Bulog supaya bisa menggelar operasi pasar.
Sehingga kemudian, salah satu bahan pangan mayoritas masyarakat di Indonesia itu bisa kembali normal harga jualnya.
Nia sapaan akrabnya mengaku, operasi pasar murah untuk komoditas beras tersebut rencananya akan dilaksanakan pada akhir bulan Februari mendatang.
Hanya saja, dia belum dapat membeberkan kepastian berapa kuota beras yang nantinya akan dijual dalam kegiatan tersebut.
“Untuk tanggal dan jumlah pastinya menunggu kesiapan Bulog. Besok baru bisa konfirmasi, karena untuk hari ini sedang sibuk lemilu,” ujar Nia saat dihubungi, Rabu (14/2).
Sebagaimana diketahui, selama beberapa pekan terakhir harga komoditas beras mengalami kenaikan cukup tinggi. Harga per kilogramnya mencapai Rp 16.500.
Jumlah itu naik signifikan dibanding dengan harga normal beras yang biasanya pada kisaran Rp 13.500 sampai Rp 14.500 per kilogram.
Salah satu pedagang sembako di Pasar Sleman, Siti mengaku, tingginya harga salah satu bahan pokok masyarakat itu sudah terjadi selama dua pekan terakhir.
Terkait dengan meningkatnya harga beras itu, dia mengaku tidak tahu. Lantaran harga beras sudah tinggi dari pemasok atau tengkulak.
“Dua mingguan ini harganya sudah tinggi, karena dari bakule (pemasoknya) sudah naik,” ungkap Siti. (inu)