Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Digelar di Tengah Tahun Politik, Tidak Ada Harapan Khusus di Labuhan Merapi

Elang Kharisma Dewangga • Senin, 12 Februari 2024 | 22:04 WIB
ALAM: Upacara adat Labuhan Merapi dilaksanakan di Kapanewon Cangkringan pada Senin (12/2).
ALAM: Upacara adat Labuhan Merapi dilaksanakan di Kapanewon Cangkringan pada Senin (12/2).

SLEMAN - Upacara adat Labuhan Merapi kembali dilaksanakan di Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, pada Senin (12/2) pagi.

Kegiatan tersebut mendapatkan antusias cukup besar dari ratusan masyarakat yang ikut mengantarkan para abdi dalem menuju Petilasan Sri Manganti.


Sebagaimana diketahui, Labuhan Merapi sendiri merupakan tradisi rutin yang digelar untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem.

Yakni, ulang tahun kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Yogyakarta.


Juru Kunci Merapi Suraksohargo Asihono mengatakan, pelaksanaan Labuhan Merapi tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

Adapun tahapannya diawali pada hari Senin (11/2) dengan upacara serah terima uba rampe labuhan di Pendapa Kantor Kapanewon Cangkringan.

 Baca Juga: Beli Satu Dapat Dua Tiket Masuk di Ketep Pass, Begini Cara Mendapatkannya...

Pada hari itu juga dilakukan arak-arakan menuju petilasan Mbah Maridjan, pentas seni, perebutan gunungan, doa bersama, hingga pagelaran wayang kulit sampai malam suntuk.


Sementara untuk hari kedua Senin (12/2) kegiatan dilanjutkan dengan membawa uba rampe dari petilasan Mbah Maridjan menuju bangsal Sri Manganti oleh abdi dalem Kraton Yogyakarta.

Di lokasi itu juga prosesi Labuhan Merapi dilakukan.


“Untuk pelaksanaannya sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada yang berbeda,” ujar Mbah Asih sapaan akrabnya saat dikonfirmasi, Senin (12/2). 


Disinggung tentang harapan khusus di tengah tahun tahun politik. Mbah Asih mengaku tidak ada. Karena tahun ini tradisi Labuhan Merapi digelar sesuai esensinya.

Yakni, berharap perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta berharap tidak ada keburukan.


Untuk diketahui, Labuhan Merapi juga merupakan salah satu upacara adat yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam pada abad XVII.

Upacara ini dimaksudkan agar negara dan rakyatnya senantiasa dalam keadaan selamat, tentram dan sejahtera.


“Tidak ada harapan khusus (di tahun politik), karena (Labuhan Merapi) memang tidak ada kaitannya,” tegas Mbah Asih.


Sebelumnya, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo telah menerima ubarampe dari utusan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang kemudian diserahkan kepada juru kunci Gunung Merapi.

Serah terima uba rampe Labuhan Merapi dilaksanakan pada Minggu, (11/2) di kantor Kapanewon Cangkringan.


Adapun ubarampe yang diserahterimakan terdiri dari Sinjang Kawung Kemplang, Semekan Gadung, Semekan Gadung Mlati, Kampuh Paleng, Desthar Daramuluk, Desthar Udaraga serta Arta Tindih dan lainnya.


Kustini mengaku, menyambut baik dengan pelaksanaan tradisi labuhan merapi ini. Karena menurutnya Labuhan Merapi tidak hanya sekedar tradisi.

Namun, juga menjadi bentuk syukur manusia kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan karunia yang telah diberikan.


"Melalui tradisi labuhan merapi ini menunjukkan sikap gotong royong, guyub rukun, golong gilig dan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus memperingati Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X," katanya. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#labuhan #Merapi #juru kunci