SLEMAN - Ajakan kaum muda untuk lestarikan lingkungan terkadang hanya jadi angin lalu. Hal ini terjadi disebagian besar masyarakat. Sebab, tak adanya timbal balik keuntungan yang didapat.
Namun, berbeda dengan kegiatan yang diusung oleh Green Leadership Indonesia (GLI) Jogja. Mereka melakukan kegiatan pendampingan masyarakat di Padukuhan Kendangan, Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman.
"Kami melakukan pendampingan di Padukuhan Kendangan selama satu bulan," ucap Ketua Kelompok GLI Jogja Muhammad Akmal saat ditemui Radar Jogja usai kegiatan pendampingan, Sabtu (3/2).
Baca Juga: Selain Mahasiswa, Antusiasme Siswa SMA/SMK Juga Tinggi Sebagai Pemilih Baru di Pemilu 2024GLI merupakan sebuah perkumpulan pemuda/ pemudi di Indonesia yang tersebar di 38 provinsi.
Perkumpulan ini diisiasi oleh Institut Hijau Indonesia (IHI) sebagai mitra Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Kegiatannya berfokus pada penyiapan pemimpin muda yang memiliki perspektif keadilan sosial dan ekologis.
Setiap peserta GLI harus mengikuti pendidikan selama beberapa bulan, dan dilanjutkan dengan melakukan aksi konkret di daerahnya.
Aksi tersebut dilakukan sebagai implementasi ilmu yang diperoleh selama pendidikan.
Akmal mengungkapkan, GLI Jogja membawa program Rintisan Desa Hijau. Di mana, program ini diharapkan bisa menjadi model pengelolaan desa yang berorientasi pada kelestarian alam.
Baca Juga: Menggali Lebih Dalam tentang 7 Tipe Kepribadian Laki-laki dalam Budaya Populer: Alpha, Beta, Omega, Gamma, Delta, Zeta, Sigma"Sebenarnya sudah ada kegiatan yang hampir serupa, KLHK memiliki program Kampung Proklim," ucapnya.
Menurut Akmal, Program Kampung Proklim yang digagas oleh KLHK sudah sangat bagus.
Namun, terdapat beberapa hal yang bisa dilengkapi oleh berbagai pihak. Termasuk, peran pemuda dan ibu-ibu.
"Dalam kegiatan ini kami menekankan kegiatan berbasis kolaborasi pentahelix, di mana keikutsertaan masyarakat dan pihak terkait sangat dibutuhkan. Kami juga melibatkan pemuda lokal dalam upaya meningkatkan tingkat adoptabilitas program oleh masyarakat," tutur Akmal.
Pemuda pun siap ambil bagian. Mereka ingin ikut melakukan perubahan."Saya siap membantu, untuk melakukan perubahan Dusun Kendangan ke arah yang lebih baik," ucap Mas Dwi, salah seorang pemuda Dusun Kendangan.
Lima puluh warga Padukuhan Kendangan yang didominasi ibu rumah tangga sangat antusias dengan kegiatan tersebut.
Masyarakat melakukan berbagai kegiatan seperti praktik pembuatan pupuk organik cair, praktik pembuatan biopori, dan jajak pendapat.
Baca Juga: Tragedi Maut, Pemuda Railfans di Jatinegara Tewas Tertabrak Kereta Saat Merekam di Tengah Rel!"Kegiatan ini memang berprinsip pada pelestarian lingkungan, tapi masyarakat bisa mendapatkan tambahan nilai ekonomi dari pelestarian tersebut. Seperti pembuatan pupuk organik cair, yang seiring berjalannya waktu dapat menghasilkan maggot," ucap Ihda, pengisi materi pupuk organik cair.
Akmal mengungkapkan, nilai tambah yang didapat masyarakat bisa melalui penjualan magot yang sebelumnya dibudidayakan untuk mengurai sampah organik.
Selain itu, pembuatan pupuk organik berupaya untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia, dan menghemat pengeluaran pembuatan pupuk.
Baca Juga: Dimulai 11 Februari, KPU Sleman Prioritaskan Distribusi Logistik ke Wilayah Terjauh dan Pemilih TerbanyakWarga juga diajak membuat lubang biopori. Pada kegiatan tersebut warga diberikan pendampingan membuat biopori dan memanen pupuk kompos yang terdiri dari sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori.
Kegiatan penyampaian materi diakhiri pada hari Sabtu, 27 Januari 2024 dengan penyerahan alat-alat pendukung pembuatan pupuk organik cair dan alat biopori.
Kendati demikian, harapannya masyarakat tetap antusias dalam menerapkan program yang diusung dari pihak GLI Jogja.
Baca Juga: Kasih Jempol untuk Kapanewon Galur, Tiga Pelajarnya Juara 1 MSQ ajang MTQ Se-KulonprogoAkmal mengungkapkan, selesainya kegiatan bukan berarti akhir dari program kebaikan ini.
Ibu-ibu PKK dan masyarakat Dusun Kendangan dapat terus berdiskusi dan kerjasama dengan rekan-rekan GLI Jogja dalam implementasi kegiatan dan pengembangannya di Dusun Kendangan.
Karena indikator keberhasilan dari program ini adalah warga dapat menerapkan kegiatan ramah lingkungan dan mempengaruhi tetangganya untuk ikut melakukan kegiatan ini.
"Setelah ini kami akan melaporkan kegiatan kami dan menilai apakah model yang kami teliti bisa diaplikasikan di seluruh desa di Indonesia," ucap Akmal.
Baca Juga: Mendekati Pemungutan Suara Rawan Politik Uang, Ratusan Pengawas Pemilu Ikuti Apel SiagaIa berharap, modelnya bisa diterima sebagai program pemerintah. Tidak hanya terbatas di GLI Jogja yang menjalankan program tersebut. Orang lain dan pihak terkait bisa menerapkan model yang mereka kaji.
Senada dengan Akmal, Mudiyati, 52, salah seorang warga yang mengikuti kegiatan, mengungkapkan harapan agar kegiatan tersebut terus berlanjut. Ia berharap kegiatan ini bisa lebih meluas dampaknya.
"Sayang sekali jika tak berlanjut, karena kami mendapatkan informasi baru yang bermanfaat," ucap Mudiyati.
Baca Juga: UMY: Pelanggaran Konstitusi dan Etika Tak Malu-Malu Lagi
Ibu rumah tangga ini menambahkan, dia dan peserta lainnya sangat antusias dengan kegiatan yang diusung GLI Jogja.
Antusiasmenya terlihat ketika ia seringkali menanyakan terkait materi yang disampaikan GLI Jogja.
Mudiyati mengungkapkan bahwa dirinya sangat tertarik pada materi pupuk organik cair. Selama ini ia memupuk tanaman dengan pupuk kimia, yang cukup menguras kantong.
Selain itu, ia sangat tertarik dengan konsep pengelolaan sampah menjadi nilai tambah guna yang bermanfaat.
Tak hanya itu, ia juga mengapresiasi gerakan yang dilakukan GLI Jogja. Ia menghargai gerakan yang diusung kaum muda ini, karena sangat jarang melihat kaum muda berkecimpung di masyarakat secara langsung. (cr7)