RADAR JOGJA - Mahalnya harga pakan ikan dikeluhkan oleh kalangan pembudidaya di kabupaten Sleman. Pasalnya, harga pakan untuk saat ini naik hingga Rp. 100 ribu pasca pandemi Covid-19.
Anggota Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mina Taruna Wahyu Hidayat mengatakan, untuk sekarang harga pakan ikan menyentuh kisaran Rp. 370 ribu - 380 ribu per karung.
Harga itu naik signifikan dari sebelum pandemi yang berada pada kisaran Rp. 270 ribu sampai 280 ribu per karung.
"Kalau pakan jelas mahal, sekarang selisihnya sampai Rp. 100 ribu," ujar Wahyu kepada Radar Jogja, Kamis (2/11).
Pembudidaya ikan di Padukuhan Garongan, Wonokerto, Turi itu mengaku, naiknya harga pakan tidak dibarengi dengan harga jual ikan.
Contohnya ikan nila yang sejak dulu harganya stabil dari kisaran Rp. 26.000 sampai 27.000 per kilogram.
Dengan kondisi seperti itu, Wahyu menyebut, tingkat keuntungan para pembudidaya ikan pun semakin sedikit. Belum lagi dengan serangan berbagai penyakit yang meningkat ketika musim kemarau.
Pada musim kemarau ini, pihaknya pun melakukan langkah antisipatif menggunakan sistem kolam kincir. Dengan cara tersebut tingkat kematian ikan khususnya nila dapat diminimalisir.
"Sehingga panen kami di musim kemarau maupun penghujan pun bisa stabil di dua ton," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono mengakui, kendala utama para petani ikan di kabupaten Sleman memang harga pakan yang tinggi. Sehingga harus disiasati dengan berbagai model budidaya.
Pram sapaannya menerangkan, sistem budidaya kolam kincir merupakan salah satu solusi mensikapi tingginya harga pakan dan kesulitan air di musim kemarau.
Karena dapat meningkatkan kepadatan ikan dalam satu kolam serta menghemat pakan.
"Dengan sistem kincir meningkatkan kadar oksigen dan sebagainya," beber Pram. (inu)