SLEMAN - Harga gula pasir di kabupaten Sleman yang makin tinggi menjadi perhatian serius bagi kepala daerah setempat.
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo bahkan berencana menambah kuota gula pasir di program pasar murah. Agar komoditas tersebut bisa kembali ke harga normal.
Kustini mengaku, telah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Sleman untuk menambah kuota reduksi biaya distribusi atau subsidi pada program pasar murah. Rencananya dilaksanakan pada pertengahan bulan November mendatang.
Adapun awalnya kuota gula pasir dalam program tersebut disiapkan sebesar 1,2 ton per kapanewon. Namun setelah dilaksanakan rapat terbatas bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, kuota gula pasir pada program pasar murah akan ditambah menjadi 2 ton per kapanewon.
"Mudah-mudahan dengan kuotanya ini kita tambah, cukup untuk masyarakat dan terutama pelaku UMKM kita. Serta kita harap harga (gula pasir) segera stabil," ujar Kustini, Rabu (1/11).
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Sleman Kurnia Astuti menyebut, kenaikan harga gula pasir disebabkan berbagai faktor.
Salah satunya karena minimnya ketersediaan gula lokal. Lantaran produksi di Pabrik Gula Madukismo sudah berhenti.
Akibat dari hal itu, banyak pedagang gula di kabupaten Sleman yang mengandalkan pasokan dari luar daerah. Seperti dari wilayah Jawa Timur.
Kondisi tersebut pun menurutnya juga cukup berpengaruh terhadap harga gula di kabupaten Sleman. Lantaran harga dari distributor juga sudah tinggi akibat terbebani biaya distribusi.
Dari hasil pantauan pihaknya di delapan pasar tradisional, harga gula pasir rata-rata menyentuh kisaran Rp 15 sampai Rp 16 ribu per kilogram.
Harga jual di warung kelontong menurutnya dapat lebih tinggi, karena ada margin keuntungan yang diterapkan pengecer.
Baca Juga: PDAM Tirta Sembada Salurkan Bantuan untuk Anak-Anak Yatim Piatu
"Untuk saat ini produksi Madukismo sementara sudah selesai, kalau tidak salah sejak bulan September. Sehingga berpengaruh terhadap harga gula," terang Nia, sapaanya. (inu)