SLEMAN - Pemkab Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman mengklaim budaya pilah sampah mulai rajin diterapkan di pasar-pasar tradisional.
Bahkan, karena hal tersebut, kini produksi sampah di pasar tradisional mulai berkurang.
Baca Juga: Terdampak Tol, Pembongkaran Separator DimulaiKepala Bidang Pengelolaan Fasilitas Perdagangan Tradisional Disperindag Sleman Purwoko Haryadi mengatakan, produksi sampah di pasar-pasar tradisional menurutnya sudah berkurang hingga 60 persen.
Perumpamaannya, jika sebelumnya dalam sehari sampah yang diangkut sebanyak lima truk. Kini hanya dua truk saja.
Purwoko membeberkan, pihaknya memang berkomitmen untuk mengurangi timbunan sampah di pasar tradisional.
Baca Juga: Sleman Rawan Perederan Miras Ilegal dan Oplosan, Mulai dari Kampus hingga Pelosok Miliki Kerawanan
Hal itu diwujudkan dengan penerbitan surat edaran tentang pengurangan sampah. Program tersebut diklaim sudah berjalan cukup baik di 37 pasar tradisional di Kabupaten Sleman.
Namun di samping itu, menurutnya, pengurangan sampah tidak lepas dari peran pedagang dan pengelola pasar. Mereka sudah mulai membentuk budaya pilah sampah atau memisahkan sampah organik dan anorganik.
"Mereka (pedagang pasar tradisional) sudah menjalankan surat edaran pengurangan timbunan sampah," ujar Purwoko, Kamis (19/10).
Baca Juga: Bikin Geger! Benda Mirip Granat Nanas Gemparkan Warga Mlati, Ditemukan Saat Lagi MancingTerkait dengan bentuk pemilahan sampah di pasar tradisional, dia menyebut, bahwa para pedagang juga telah bekerjasama dengan para peternak. Yakni, untuk mengolah sampah organik berupa limbah sayuran menjadi pakan ternak sapi atau ikan.
Sementara untuk sampah anorganik, biasanya di pilah sendiri oleh pedagang atau petugas pengangkut sampah lalu kemudian dijual.
Uang hasil penjualan sampah plastik itu kemudian dimanfaatkan untuk membantu operasional pengangkutan sampah.
Baca Juga: Permintaan Beras Turun 25 Persen, Pemkab Sleman Gelontorkan Subsudi Rp 500 Juta"Karena nilainya tidak signifikan (hasil penjualan sampah plastik di pasar tradisional), maka tidak masuk hitungan pendapatan asli daerah," terang Purwoko.
Sebelumnya, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan, gerakan pilah sampah cukup efektif untuk mengurangi produksi sampah wilayahnya.
Setidaknya ada sebanyak 50 ton sampah di Bumi Sembada yang dapat dikurangi semenjak program tersebut digencarkan.
Baca Juga: Pemeliharaan Rutin, Uji KIR Dishub Sleman TutupKustini mengaku, gerakan pilah sampah memang gencar disosialisasikan pemkab sejak penutupan TPA Piyungan pada bulan Februari lalu.
Bahkan, upaya tersebut juga diwujudkan dengan Surat Edaran (SE) Bupati Sleman dan sosialisasi yang melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat.
"Edukasi terus kita lakukan, salah satunya dengan mengurangi sampah. Setelah itu kita tekankan agar sampah itu dipilah agar lebih mudah diolah," ungkap Kustini beberapa waktu lalu. (inu)