Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waduh..1.068,6 Hektar Lahan Pertanian di Sleman Terdampak Kekeringan, Ada Potensi Gagal Panen

Iwan Nurwanto • Senin, 16 Oktober 2023 | 17:52 WIB

KERING: Meski mengalami kekeringan, Mundakir tetap berikhtiar untuk melakukan penyemprotan di lahan pertanian miliknya, Rabu(23/8/23).Naila Nihayah/Radar Jogja
KERING: Meski mengalami kekeringan, Mundakir tetap berikhtiar untuk melakukan penyemprotan di lahan pertanian miliknya, Rabu(23/8/23).Naila Nihayah/Radar Jogja

SLEMAN - Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman mencatat ada ribuan hektar lahan pertanian yang terdampak kekeringan tahun ini.

Dengan kondisi tersebut, potensi puso atau gagal panen hingga penurunan produksi pun meningkat.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman Suparmono mengatakan, total luas lahan yang berpotensi terdampak kekeringan mencapai 1.068,6 hektar. Dengan komoditas yang ditanam berupa padi dan holtikultura. 

Adapun untuk wilayah sebarannya di kapanewon Seyegan, Minggir, dan Moyudan. Di beberapa wilayah itu, disebutnya, lahan pertanian sudah mengalami nelo atau tanah pecah-pecah akibat kadar air yang menurun.

Pram sapaanya menyatakan, sebagian petani sudah menyiapkan langkah menghadapi kondisi kekeringan tahun ini. Yakni dengan memanfaatkan bantuan pompa air dan sumur ladang. Serta berganti menanam komoditas palawija atau hortikultura dan menuda tanam lebih dulu. 

"Dampak kekeringan yang paling bisa terjadi puso atau gagal panen, lainnya berupa penurunan hasil panen hingga 25 sampai 45 persen," terang Pram kepada Radar Jogja, Senin (16/10/2023).

Menurutnya, situasi di kabupaten Sleman ada harapan panen untuk komoditas padi yang ditanam pada bulan Juli. Namun untuk pertanaman di bulan Agustus dam September berpotensi sangat terdampak kekeringan.

Hal itu terjadi, lantaran tanaman padi melalui tiga fase pertumbuhan. Pada fase vegetatif pada umur 0 - 60 hari , fase generatif 61 - 90 hari, dan fase pemasakan umur 90 hari ke atas. 

"Padi pada fase vegetatif dan generatif masih sangat membutuhkan air untuk bertahan hidup," terangnya.

Di sisi petani, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tirto Sembodo Tirtomartani, Kalasan Janu Riyanto menyatakan, pada musim kemarau ini pihaknya sudah mengubah pola tanam. Yakni dari komoditas padi menjadi palawija yang lebih membutuhkan sedikit air.

Selain itu, untuk mencukupi kebutuhan air di lahan pertanian para petani di wilayahnya juga telau menyiapkan sumur-sumur ladang. Namun diakuinya, pada saat ini debit air tanah di sumur ladang debitnya cukup kecil.

"Tentunya berat kami menghadapi musim kemarau tahun ini, apalagi Selokan Mataram ditutup karena pemeliharaan," katanya. (inu)

Editor : Bahana.
#Kekeringan #Pertanian #sawah